KITAB SUCI KECIL

KITAB SUCI KECIL

Kamis, 5 Oktober 2017

Sharing Kerasulan

Fr.Benny,SX

Sebagai calon Misionaris Xaverian, saya dituntut untuk merealisasikan keinginan St. Guido Maria Conforti (Pendiri Xaverian) mulai dari tahap pembinaan hingga kelak di tanah misi tempat saya diutus. “Bapa Pendiri menginginkan agar misionarisnya memiliki cakrawala yang luas, kemampuan menyesuaikan diri yang ditopang oleh sikap kemanusiaan yang kaya dan seimbang serta pendidikan   yang sesuai dengan perutusan kita. Dengan setia kepada keinginan Bapa Pendiri kita mengembangkan semangat kreatif, terbuka dan tanpa prasangka terhadap orang, kebudayaan, lingkungan serta  metode pewartaan Injil. (Kons. No.4 Keterbukaan Seorang Rasul). Dalam rangka merealisasikan keinginan Bapa Pendiri inilah, saya secara sadar dan penuh kerelaan sembari memupuk sikap kerendahan hati serta semangat kaul ketaatan menerima tugas dari komunitas untuk mengemban kerasulan di SD Fransiskus III, Kampung Ambon.[1]

Menyadari bahwa tugas kerasulan merupakan sebuah perutusan, maka pertama-tama yang saya lakukan adalah membangun dialog dengan Kristus tersalib pusat dan sumber inspirasi. Selain dialog dalam doa bersama, saya juga berinisiatif meluangkan waktu pribadi untuk memandang Kristus tersalib. Di sini saya datang tanpa mengucapkan satu kata pun, apalagi merangkai doa dengan seribu satu kata-kata indah. Akan tetapi, diam dengan maksud membiarkan sabda Tuhan memenuhi hati dan pikiran saya, sebab sabda Tuhan itu adalah sabda hidup yang memampukan saya melihat Dia dalam segala hal khususnya dalam tugas perutusan ini. “Saya menerima tugas perutusan ini bukan karena suatu kebetulan atau karena saya pantas untuk mengembannya, tetapi melalui komunitas Tuhan berkenan memakai saya untuk mewartakan good news of God lewat kehadiran saya di tengah anak-anak. So, bukan saya yang membawa Kristus, tetapi Kristuslah yang membawa saya ke Kebun Anggur-Nya di SD Fransiskus III.” Demikian peneguhan yang saya alami berkat membangun dialog yang mesra dan intim dengan Kristus tersalib pada suatu kesempatan meditasi.

Tiga pengelana bersaudara beranjak dari satu titik ke titik lain yang disebut detik, lalu beranjak ke menit, dan akhirnya menunjukkan pukul sekian yang berganti sesuai dengan cara dan ritmenya sendiri. Hari demi hari mereka lalui bersama, hingga hariha tugas perutusanku dimulai. Edddd…. Mereka yang dimaksud, ialah ketiga jarum jam analog. Iya, itulah jam dinding di kamar saya. By the way, pada hari pertama kerasulan, muncul satu kata di benak saya, yaitu RAKA (raja nakal). RAKA merupakan cap yang saya berikan terhadap anak-anak. Lantas, kesan ini muncul atas tingkah laku mereka yang unik; mulai dari ribut, main kejar-kejaran, cuek, dan sok sibuk sendiri. Ini semua merupakan gambaran situasi kelas, tempat saya dan anak-anak saling belajar dan mengajar at the first time.

Kisah kerasulan pada hari pertama memang menjengkelkan, tetapi aku menyadari bahwa apa jadinya kalau aku tenggelam di dalam kesan-kesan yang tidak baik seperti itu. Lagi pula, saya yang menyandang status frater mestinya mampu melampaui semua itu. Kesadaran ini mendesak saya untuk berusaha keluar dari keadaan tersebut. Kesadaran ini, mengantar saya pada suatu pertanyaan reflektif “Ada apa di balik semua ini?” Dalam refleksi, saya mendapat pencerahan dari perkataan Paulus. “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”(1 Kor.13:1). Oleh karena itu, kasih tidak bisa dipisahkan dari karya Pewartaan Injil. Artinya kasih wajib dimiliki oleh Pewarta Injil sebab  “Kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”(I Kor.13:7).

Apa yang dikatakan Paulus pada ayat 1 & 7 dalam suratnya kepada jemaat di Korintus di atas merupakan sabda hidup, sebab kalau boleh saya katakan bahwa perkataannya ibarat hujan di tengah siang bolong. Mengapa? Karena perkataan ini membalikkan semua kesan buruk saya terhadap anak-anak. Sebelumnya saya berkesan bahwa mereka itu RAKA, tetapi sekarang kesan saya berubah total menjadi mereka itu “Kitab Suci kecil” yang harus saya baca dengan kaca mata iman.

“Kitab Suci merupakan sumber inspirasi bagi setiap orang yang menghayati iman dalam praktik hidup sehari-hari. Kitab Suci dikatakan sumber inspirasi karena isi dan maksud Kitab Suci adalah sebuah undangan yang menantikan sebuah respon (tanggapan) dari orang  yang membacanya. Tanggapan yang diharapkan dari pembaca Kitab Suci adalah perubahan sikap hidup ke arah yang lebih baik. Pembaca diundang untuk menanggapi isi dan maksud Kitab Suci, sebab Kitab Suci sebagai pedoman hidup orang beriman yang berfungsi untuk mengontrol kehidupannya. Pada saat membaca dan mempelajari Kitab Suci, orang mendengarkan firman Tuhan, merenung, dan yang tidak kala penting, yaitu membiarkan Kitab Suci membaca hidup si pembaca. Sehingga pembaca punya iman, harapan, dan kasih untuk kembali mencintai, memberi, berkorban, mengampuni, bertumbuh dan berkembang dalam iman.( RD.Josep Susanto, power point, (9/13/2017)”

Kalau Kitab Suci berisi sabda Tuhan, maka di setiap tingkah laku mereka pun sebenarnya berisi sabda Tuhan yang mesti saya cari, temukan, lihat, dan mencintainya. Bagi saya, di sinilah wujud konkrit dari pernyataan di mana misionaris bukan orang yang tahu segalanya, tetapi orang yang siap sedia belajar segalanya. Maka mencari, menemukan, melihat dan mencintai sabda berarti mencintai Kiristus sumber sabda itu sendiri dalam segala hal. Apa maksudnya? Maksudnya adalah melalui kehadiran mereka dengan segala tingkah laku mereka yang unik, saya didorong untuk mencari pesan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada saya. Tentunya pesan yang dimaksud di sini, yaitu pesan yang menginspirasi saya sekaligus menggerakkan hati dan pikiran saya untuk maju terus alias tidak menyerah dalam mengemban tugas mulia ini. Namun untuk sampai ke taraf ini, iman yang teguh, dan komitmen serta kerja keras adalah jembatan menuju perubahan sikap hidup saya ke arah yang lebih baik. Sikap hidup yang mencakup seluruh tatanan hidup saya, termasuk di dalamnya soal perspektif saya terhadap semua peristiwa atau dalam hal apa saja yang seyogyanya diharapkan menempatkan kehendak Tuhan di atas ego saya. Selanjutnya, sikap ini juga diusahakan dapat diimplementasikan dalam kerasulan yang mengembangkan semangat kreatif, terbuka dan tanpa prasangka terhadap orang, kebudayaan, lingkungan serta  metode pewartaan   Injil dalam terang kasih.

 

Doa

St. Fransiskus Xaverius Ya Tuhan, Ajarilah kami melayani Engkau Karena Engkau pantas dilayani. Ajarilah kami  Memberi tanpa menghitung pengorbanan; berjuang tanpa ingat akan luka-luka; bekerja tanpa mencari istirahat; berusaha tanpa minta ganjaran apa pun, kecuali dapat mengetahui bahwa kami telah melakukan kehendak-Mu. Melalui Kristus, Tuhan kami. Amin

[1]Sekolah Dasar  Fransiskus III merupakan sekolah swasta. SD Fransiskus III terletak di Jalan Bangunan Barat No.5 Kampung Ambon, Jakarta Timur, DKI Jakarta.  Sekolah ini berdiri pada tanggal 7 Januari 1968. Bersih, rapi, dan indah merupakan kekhasan tersendiri dari bangunan sekolah berbentuk persegi empat ini. Selain bersih, rapi, dan indah, sekolah ini juga memiliki kekhasan berupa hospitalitas yang ditunjukkan para guru, karyawan/ karyawati, dan anak-anak kepada setiap pengunjung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: