Takjub

Takjub

Renungan HMB IV: Ul. 18:15-2;
1 Kor. 7:32-35:
Mrk. 1:21-28.

Yesus menjalani karya kerasulan-Nya di Kapernaum dengan menampilkan bahwa Ia adalah ‘Sang Misionaris Bapa’ yang diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memang sedang berada dalam situasi ‘merindukan penghiburan’ dari Tuhan. Yesus hadir dan memberikan pengajaran-Nya kepada mereka sehingga mereka semua merasa takjub—terpesona oleh kehadiran dan pengajaran-Nya. Orang-orang takjub karena Yesus menampilkan diri-Nya di hadapan mereka apa adanya sesuai dengan yang dikehendaki Bapa, sesuatu yang berbeda dengan tampilan para ahli-ahli Taurat. Perasaan takjub merupakan perasaan yang biasa dirasakan oleh setiap pribadi. Perasaan takjub ini muncul sebagai respon psikologis manusia terhadap realitas di luar diri manusia itu sendiri yang mengandung unsur-unsur baru yang tidak biasa. Seorang pendaki gunung akan merasakan perasaan takjub ketika ia berada di puncak gunung karena eloknya pemandangan alam gunung. Saya sangat merasa yakin bahwa kita semua pernah mengalami perasaan takjub akan sesuatu yang berada di luar diri kita atau pun sebaliknya kita merasa takjub akan sesuatu yang ada dalam diri kita. Perasaan takjub yang sama merupakan perasaan yang mesti kita bangun dalam setiap perjumpaan kitan dengan Yesus.

Apabila kita memperhatikan komposisi bacaan Injil yang ditampilkan ini, kita akan menemukan bahwa kata takjub muncul dua kali, yakni pada bagian awal (ayat 22) dan pada bagian akhir (ayat 27). Bukan sebuah kebetulan bahwa kedua kata ini mengapiti ayat yang menceritakan tentang Yesus yang sedang mengajar dan iblis yang sedamg berkonfrontasi dengan Yesus. Hal yang lain yang tidak kalah penting dari pengapitan dua kata takjub ini adalah pengakuan iblis tentang identitas Yesus sebagai “Yang Kudus dari Allah”.

Sampai pada titik ini, sekiranya sudah jelas bahwa rasa takjub merupakan rasa yang juga harus kita rasakan ketika kita berhadapan dengan Yesus. Artinya bahwa dalam setiap perjumpaan-perjumpaan yang kita lakukan dengan Yesus, baik dalam doa pribadi, doa bersama maupun dalam perayaan Ekaristi semestinya menghantar kita sampai pada munculnya perasaan terpesona yang mendalam. Keterpesonaan ini merupakan salah satu tanda bahwa kita sungguh-sungguh memiliki iman yang besar dan sungguh-sungguh percaya bahwa hanya Yesus yang menjadi satu-satunya pedoman dan arah hidup kita. Yesus menjadi hal yang paling utama di atas segala sesuatu yang sedang kita perjuangkan dalam dinamika hidup keseharian kita.

Merasakan perasaan takjub kepada Yesus berarti kita mencinta-Nya. Dengan demikian, perasaan takjub kepada Yesus setiap kali kita datang kepada-Nya sekiranya merupakan hal yang harus selalu kita pastikan benar-benar terjadi karena jika perasaan ini tidak pernah muncul dalam hati dan pikiran kita itu berarti kita belum sepenuhnya menjadikan Yesus sebagai yang utama di atas segala yang kita miliki atau yang sedang kita perjuangkan. Atas dasar perasaan takjub ini juga, kita akan dengan mudah membawa Yesus kepada setiap orang yang kita jumpai, baik dalam keluarga, lingkungan tempat kita tinggal maupun di tempat kita bekerja.

Semoga perasaan takjub kita rasakan dalam setiap perjumpaan kita dengan Yesus membangkitkan kerinduan dalam diri kita untuk selalu datang kepada-Nya dan memampukan kita menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk mewartakan Dia kepada orang-orang yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari yang kita jalani. Tuhan memberkati.

Fr. Adrian Safrudin, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: