Akhirnya Saya Tenggelam

Akhirnya Saya Tenggelam

Kerasulan di Warakas oleh: Fr. Lian,SX

Mat. 18: 1-5

            Judul ini lebih menggambarkan suasana hati serta bagaimana saya menempatkan sekaligus melihat posisi saya dalam kegiatan kerasulan. Saya merasul di Warakas bersama Fr. Ardin,SX mendampingi anak-anak usia sekolah dasar. Gambaran suasananya adalah mendampingi anak-anak yang mengikuti les privat . Di sana mereka dibimbing beberapa volunteeer tetap. Volunteer tersebut sudah begitu lama berkarya di tempat itu. Jadi, dari segi pengalaman dan penguasaan materi pelajaran, mereka cukup profesional. Kegiatan itu secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak ekonomi lemah.  Nah, dimana letak tenggelamnya saya  dalam kerasulan tersebut ?

Dalam pengalaman merasul selama masa-masa sebelum di Cempaka Putih (Skolastikat-RED), saya seringkali menjadi pembawa cerita yang berkaitan dengan injil dan menyampaikan pesan injil kepada anak-anak secara sederhana. Artinya dalam beberapa masa , bisa dikatakan, saya menjadi pusat perhatian anak-anak karena saya menjadi “pengajar”. Posisi pengajar dan yang diajar itu cukup jelas perbedaannya. Jadi saya cukup menikmati suasana ini. Namun, ketika saya merasul di Warakas, suasananya terasa sangat berbeda. Saya benar-benar mengalami seperti apa sebenarnya ‘hanya’ menjadi seorang  pendamping, bukan seorang pengajar. Jadi, euforia sebagai seorang Frater dan pengajar luntur. Saya pun ikut belajar bersama anak-anak, duduk di tengah-tengah mereka, mengerjakan bersama soal-soal yang perlu mereka kerjakan, dan membantu mereka jika ada hal yang tidak mereka pahami. Lebih dari pada itu, di dalam dinamika studi dan kebersamaan dengan mereka, saya pun perlahan-lahan belajar arti merendahkan diri seperti anak-anak kecil, jika saya ingin menjadi murid Kristus yang sejati. Siapa yang terbesar dalam kerajaan surga ialah siapa yang bisa menjadi murid sejati. Dan, siapa yang menjadi murid sejati berarti siapapun yang mau merendahkan diri seperti anak-anak kecil. Saya pun tenggelam dalam dinamika studi anak-anak Warakas; status sebagai seorang Frater tidak lagi menjadi hal yang dibanggakan, namun cukuplah dengan menampilkan secara praktis kualitas seorang frater yang baik kepada mereka. Tidak ada lagi sikap tersembunyi ingin menjadi pusat perhatian dan selalu mau menjadi yang terbesar. Sebab, sikap-sikap seperti itu ialah sikap-sikap kekanak-kanakan, bisa dikatakan kurang layak menjadi murid Kristus. Jadi, kerendahan hati dan mau menjadi seperti anak kecil merupakan suatu jalan menjadikan saya semakin dewasa sehingga saya bisa menanggalkan sikap dan cara hidup saya yang kekanak-kanakan. Unsur yang paling penting juga ialah, saya tenggelam atau menceburkan diri dalam dinamika anak-anak di sana, karena ingin menularkan kasih Allah yang telah saya peroleh dari Kristus, dari komunitas saya, dan dari kasih yang saya peroleh  dari siapapun. Sebab orang yang berkelimpahan kasih-lah yang bisa menyalurkan kasih yang berlimpah kepada orang lain, dalam konteks ini ialah anak-anak.

Lalu yang kedua ialah tenggelam karena bergulat dengan perasaan. Pada saat pergi merasul, ban motor yang kami tunggangi pecah. Karena waktunya masih cukup pagi, saya pun cukup kesulitan mencari bengkel terdekat. Bengkel yang saya temukan juga cukup jauh dari tempat kejadian. Maka, saya pun mendorong sepeda motor tersebut sampai basah kuyup karena keringat. Memang kondisi ini tidak ada apa-apanya. Namun, saya cukup lama bergulat dengan perasaan saya. Kenapa harus seperti ini ? Kenapa harus menimpa saya dan berbagai macam caci maki yang muncul dari hati saya. Namun, ketika saya teringat bahwa saat saya mengalami hal ini sedang dalam suasana mewartakan kasih Allah kepada anak-anak di Warakas, perlahan-lahan perasaan tersebut menjadi reda. Saya mulai berpikir bahwa jika saya tidak bertobat (tidak meredakan perasaan buruk tersebut) dan masih saja seperti anak kecil yang cengeng dan suka ngeyel, maka sesungguhnya saya kurang pantas menjadi murid Kristus yang sejati. Jadi muncul niat untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan sabar menerima semua itu lalu memasrahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Setelah itu, ketika tiba di tempat kerasulan, saya bisa kembali bahagia dan dalam keadaan tenang menyalurkan kasih Tuhan kapada anak-anak di Warakas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: