Cinta, Kerendahan Hati dan Kepercayaan

Cinta, Kerendahan Hati dan Kepercayaan

Teologi Kamerun

Fr.Evansius Abi, SX.

Ketika diminta untuk menulis pengalaman hidup di tanah misi Afrika, saya mengalami kesulitan untuk menentukan tema yang tepat de-ngan keadaan yang saya rasakan. Namun demikian, keindahan akan ritme dan dinamika kehidupan di tanah misi mendorong saya merangkumkan­nya dalam sebuah tema ‘cinta, kerendahan hati dan kepercayaan’. Saya akan membahasnya dalam 3 bagian. Bagian pertama, cinta yang berbisik dalam keheningan. Bagian kedua, kerendahan hati yang membawa penegu­han. Bagian ketiga, kepercayaan yang menumbuhkan pengharapan.

Cinta yang berbisik dalam keheningan

Dalam perjalanan saya dari Indonesia-Italia, saya tidak me-nemukan hambatan apapun, sebaliknya saya menikmati perjalanan saya dalam keheningan dan kekaguman akan karya Tuhan yang ter­bentang luas di seluruh pelosok dunia, teristimewa beberapa negara yang saya lewati dalam penerbangan saya. Akan tetapi, setibanya di bandara Fiumicino, Italia, saya mendapat sebuah kejutan aneh dan menjengkelkan dari seorang polisi. Sebenarnya saya tidak seharusnya ditahan karena semua prosedur bandara telah saya lewati dan ting­gal beberapa langkah keluar ke pintu penjemputan. Namun itulah yang terjadi, sebelum mengayunkan dua/tiga langkah ke pintu ger­bang, tiba-tiba saya merasakan hentakan sebuah tangan di punggung saya dan disertai suara, “stop”. Saya berbalik dan di hadapan saya ter­lihat seorang asing yang dengan wajah serius menunjukkan atributnya sebagai polisi. Ia adalah seorang polisi bandara. Dalam waktu seke­jab ia mengajak saya masuk ke ruangan pemeriksaan dan ia lalu me­minta paspor dan alamat tujuan saya. Setelah mengetahui bahwa saya berasal dari Indonesia, serentak raut wajah dan tatapan matanya menjadi aneh seperti ia sedang berhadapan dengan seorang kriminal/teroris.

Ia memberondong saya dengan banyak pertanyaan yang tidak saya mengerti karena dalam bahasa Italia. Saya lalu mencoba menjelas­kan pribadi dan tujuan perjalanan saya dalam bahasa Inggris namun rupanya ia juga tidak mengerti. Ia lalu mengobrak-abrik tas ransel dan koper saya. Dalam pencarian akan sesuatu yang ia curigai selama kurang lebih satu jam akhirnya ia menemukan sebuah salib dalam koper saya dan hanya karena salib itulah ia membebaskan saya pergi. Hal yang sama terjadi di bandara Yaunde, Kamerun. Sebelum keluar ke pintu gerbang penjemputan, saya dihentikan oleh tiga orang polisi bandara. Mereka mengin­terogasi saya dalam bahasa Perancis. Ketika saya mencoba menjawab dengan bahasa Inggris, mereka tidak percaya. Mereka ber­pikir saya berpura-pura. Mereka lalu men­gobrak-abrik lagi tas ransel dan koper saya.

Fr.Evan bersama umat

Pengalaman awal ini menjadi sebuah peneguhan tersendiri bagi saya karena yang saya alami adalah sebuah pengalaman rohani di mana Tuhan sendiri yang menjadi jaminan hidup saya. Ia-lah yang membantu saya melewati semua situasi sulit ini. Ketika bahasa menjadi penghambat, Ia hadir se­bagai penyelamat. Bagi saya, Ia adalah Cinta yang berkata-kata dalam keheningan dan kata-kata-Nya membebaskan saya. Dalam kehe-ningan, Ia membimbing, mengajar dan mendorong saya untuk terus melang­kah dan merajut hidup panggilan saya dalam sukacita dan semangat.

Kerendahan hati yang membawa peneguhan

Saya tiba di Yaunde, Kamerun (Afrika Tengah) pada 28 Agus­tus 2015. Pada tanggal inilah saya memulai hidup baru saya di neg­ara yang baru. Jika saya tidak salah mengutip bahwa dalam filsa­fat Budhisme dikatakan bahwa pertarungan sejati dalam hidup kita adalah bertarung de-ngan diri sendiri bukan dengan diri orang lain. Hal ini mengingatkan saya pada nasihat dari P. Matteo sewaktu di Ita­lia. Ia menasihati saya untuk bersikap rendah hati karena pengalaman belajar bahasa baru akan menuntun saya menjadi seperti anak ke­cil. Oleh karena itu, pertarungan awal saya adalah pertarungan den­gan ego saya. Inilah kisah hidup saya bahwa dari awal hingga saat ini saya mengakui bahwa bahasa Perancis tidak begitu mudah bagi saya. Struktur bahasanya sangat rumit daripada bahasa Indonesia. Menu­rut saya, untuk menguasai bahasa Perancis, jalan satu-satunya adalah meninggalkan metode berpikir dalam struktur bahasa Indonesia.

Bersama P.Valentin, SX

Hal ini tentu tidak mungkin di permulaan, namun seiring dengan waktu metode berpikir saya mulai menyesuaikan diri dan itu hanya karena didukung oleh sikap kerendahan hati untuk belajar dengan tekun, bertanya, selalu siap untuk dikoreksi, diejek atau pun ditertawakan. Menariknya bahwa kata bodoh/dungu, gila/ sinting, orang asing adalah istilah yang kadang-kadang dialamat­kan untuk diri sendiri tanpa orang lain mengatakannya. Selain itu, hal terpenting dan terbesar yang saya temukan bahwa ketika berada di negara sendiri saya membanggakan diri karena bisa memfasilitasi diri dengan bahasa yang saya miliki atau menganggap diri lebih dari orang lain. Sebaliknya, ketika di negara orang, saya menemukan diri seperti seorang yang tanpa arti karena semuanya berawal dari nol.

Namun demikian, kenyataan ini membawa saya pada sebuah refleksi mendalam akan identitas panggilan di dunia ini. Di dalam re­fleksi saya ini, saya temukan bahwa jika hidup saya hanya untuk du­nia atau untuk diri saya sendiri maka saya memilih untuk mati dari­pada hidup tetapi kehilangan arti. Sebaliknya karena saya memilih hidup saya untuk Tuhan maka saya berjuang untuk hidup dan ber­tahan karena saya tahu bahwa hanya Dialah yang mampu menjamin dan memberi arti bagi hidup saya. Pengalaman telah menuntun saya untuk mengerti realitas bahwa di hadapan dunia, saya tidak berarti apa-apa. Dunia memiliki standar dan tuntutannya sendiri. Lebih dari itu, perlakuannya terhadap manusia bagi saya begitu mengerikan. Maka, kesadaran akan hakikat saya di hadapan dunia ini membawa saya pada sebuah kepercayaan bahwa Tuhanlah awal dan akhir hidup saya.

Kepercayaan yang menumbuhkan pengharapan

Kehidupan saya di Afrika selama kurang lebih satu tahun tu­juh bulan merupakan sebuah hadiah terindah dari Tuhan. Saya ingat bahwa sebelum berangkat ke Afrika ada beberapa orang yang heran dengan pilihan saya untuk memilih tempat teologi di Kamerun-Afrika. Mereka mengajukan saya untuk memilih tempat lain selain Afrika kare­na banyak isu negatif tentangnya terutama peperangan, penyakit dan kemiskinan. Akan tetapi, saya mengatakan kepada mereka bahwa jika Tuhan yang memilihnya untuk saya, maka saya tidak takut untuk pergi. Akhirnya benar bahwa saya menemukan banyak hal yang indah dan mempesona. Bagi saya, bukan nama, tempat, negara, pulau, ras/budaya, warna kulit yang membedakan saya dengan yang lain tetapi pikiran. Dalam komunitas Teologi Yaunde-Kamerun, terdapat delapan negara berbeda dari empat benua. Benua Asia; Indonesia. Benua Eropa; Spa-nyol dan Italia. Benua Amerika ;Brasil dan Meksiko. Benua Afrika; Ka­merun, Kongo, dan Burundi. Itulah keindahan yang saya temukan bahwa perbedaan kami disatukan oleh satu komitmen bahwa ‘Tuhanlah yang memanggil kami untuk berjalan dan bertumbuh bersama dalam cinta’.

Kami tahu bahwa setiap dari kami memiliki sifat/karakter, bu­daya/tradisi dan prinsip yang tidak bisa hilang dalam kehidupan se­hari-hari tetapi hal itu mengizinkan kami untuk menghormati kekayaan yang Tuhan berikan dalam setiap pribadi. Suatu pengala­man yang sangat menyentuh hati saya, yakni ketika saya berselisih pendapat dengan seorang teman dari Kamerun. Ia dengan rendah hati datang ke kamar saya untuk meminta maaf jika ia berbuat salah terhadap saya. Selain itu juga ketika saya jatuh sakit atau mengala­mi kesulitan dalam bahasa Perancis merekalah yang selalu hadir di samping saya. Bagi saya, ketika cinta itu menjadi pusat dari hembusan nafas kami maka cinta itulah yang menopang kami untuk terus berjalan.

Fr.Evan bersama umat di Kamerun

Keindahan lain yang saya temukan juga adalah kebaikan dan keramahan dari orang-orang Kamerun. Benar bahwa terdapat sebuah realitas yang tidak seimbang antara yang kaya dan yang miskin. Na­mun bagi saya itu hanyalah perbandingan duniawi. Sebaliknya saya temukan lebih dalam dari itu bahwa orang-orang Kamerun memiliki hati yang begitu sederhana dan sikap yang penuh kasih. Suatu ke­tika, saya mengunjungi seorang katekumen saya yang tidak jauh dari komunitas. Saya begitu heran dengan keadaan hidup mereka. Saya tidak bisa membayangkan bahwa dalam sebuah kamar yang sem­pit terpadat tinggal satu keluarga dengan jumlah anggota lima orang. Kamar mereka difungsikan sebagai tempat tidur, kamar tamu dan da­pur. Pekerjaan ibunya adalah pembantu rumah tangga sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka. Pertanyaan saya adalah bagaimana mereka bisa hidup? Tetapi Tuhan punya jawabannya.

Suatu hari, katekumen saya itu membawakan sebotol minuman yang saya tahu bahwa harganya mahal. Ia memberikannya kepada saya setelah pertemuan katekumenat. Saat itu, ia memberitahu saya untuk mendoakan saudarinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Saya pada saat itu kehilangan kata, yang ada hanyalah keheningan yang mengham­piri saya. Saya meneteskan air mata ketika tiba di kamar saya terutama akan kebesaran Tuhan. Ia tidak ingin saya bertanya bagaimana mereka bisa hidup, tetapi meminta kepada keluarga itu bagaimana mereka me-ngalami kasih Tuhan dan mengajarkan saya cinta dan kebesaran-Nya.

Terima Kasih

Oyom Abang, 04 Maret 2017

(Evansius Abi Sx)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: