Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam

 

Hari ini Gereja di seluruh dunia merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam ditetapkan oleh Paus Pius IX pada 1925. Pada mulanya dirayakan pada Minggu terakhir bulan Oktober menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November. Melalui ensiklik Quas Primas, Paus mau menunjukkan bahwa dengan gelas Yesus dan perayaan pesta itu, Kristus diakui lebih tinggi dan berkuasa di atas segala kekuatan yang diagung-agungkan oleh dunia.

Pembaharuan liturgi pasca KV II, sejak 1970 menempatkan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam pada hari Minggu pertama Masa Adven. Dengan perubahan tersebut, Kristus mau ditempatkan bukan hanya sebagai raja KOSMOS, (semesta alam) tetapi juga sebagai raja eskatologis. Yesus juga sebagai raja yang menentukan penghakiman atas semua orang dan segala makhluk di dunia.

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam di rayakan untuk menyambut tahun liturgi yang baru. Kita akan mengawali liturgi baru yaitu Masa Adven I yang akan kita rayakan minggu depan untuk menyambut Dia yang “akan datang sebagai Anak Manusia dalam kemuliaan dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia” (Mat. 25:31). Selama masa Adven, semua orang hendaknya bersukacita dan menyambut kedatangan-Nya dengan pertobatan yang mendalam.

Bagaimana kita tahu kapan Sang Raja yang maha agung itu akan datang? Akankah kedatangan-Nya ditandai dengan bunyi terompet yang memekakkan telinga? Dengan arak-arakkan yang panjang? Lahir di istana yang megah? Dikelilingi dan dilayani oleh dayang-dayang? Ataukah dengan pengawal yang siap dengan senjata lengkap untuk melindungi-Nya?

Dia datang dalam kesunyian, hanya ditemani dengan bunyi jangkrik yang bersahutan memecah kesunyian malam. Tidak ada sambutan yang gegap gempita. Dia juga datang bukan di istana yang megah dan dilayani oleh dayang-dayang. Akan tetapi Dia datang sebagai Anak Manusia dari keluarga yang sederhana. Bahkan kelahiran Sang Raja Agung di palungan yang sangat hina. Dia yang digambarkan sebagai Raja Semesta Alam datang sebagai seorang manusia yang lemah. Akan tetapi, sekalipun lemah, Dia kuat, dan sekalipun miskin, dia sangat kaya.

Seorang raja biasanya dihormati, dilayani dan hidup dalam istana yang mewah. Yesus, yang adalah Raja Semesta Alam justru menampilkan diri sebagai orang yang sederhana dan justru kontroversi dengan kata “raja” karena justru Dia datang ke dunia untuk melayani setiap orang. Raja Agung itu hadir di dunia dengan menanggalkan kemahaagungan-Nya untuk dan menjadi sama seperti manusia. Ia datang untuk mencari orang yang berdosa dan ingin menyelamatkan semua orang dari lumpur kenistaan. Dia menginkan semua orang untuk selamat. Dia merelakan tubuh dan darah-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan manusia. Dengan perjamuan Ekaristi, kita makan dan minum darah-Nya untuk keselamatan manusia. Dia juga seorang merupakan seorang Hakim Agung yang penuh belas kasih dan kelembutan.

Sudahkah aku bersyukur dengan Tuhan yang mau merendahkan diri untuk hadir di tengah-tengah kita dan serupa pula? Masihkah kita tidak mau untuk bertobat? Masih haruskah Yesus mati lagi di kayu salib untuk kedua kalinya lagi agar kita dapat bertobat? Semuanya berpulang pada kehendak bebas kita untuk memilih. Dia bukan seorang yang memaksakan kehendak manusia. Manusia bukan sebagai robot sehingga dikendalikan. Manusia punya pilihan bebas untuk memilih, sekalipun Allah yang menciptakan manusia dan Allah dapat melakukannya. Pertobatan hendaknya dari kesadaran diri sendiri.

By; Vincent

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *