Gereja, Sakramen Kerahiman

Gereja, Sakramen Kerahiman

oleh: Alexander Ivan Pasca Putra

Sejak tanggal 8 Desember 2015, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah hingga tanggal 20 November 2016, pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Walaupun momen khusus ini telah lewat, bukan berarti pintu Kerahiman Allah sudah ditutup, melainkan tetap terbuka hari ini dan selama-lamanya. Lebih relevan lagi bagi kita dewasa ini dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian, yakni sudahkah Gereja menunjukkan wajah belaskasih Allah? Dan Apa bentuk-bentuk usaha yang mesti dilakukan Gereja dalam mewujudkan wajah belaskasih Allah ini? Tulisan ini akan memaparkan beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan fokus pada topik “Gereja sebagai Sakramen Kerahiman”. Oleh karena itu, paper ini dengan dibantu oleh Kardinal Kasper dan RD. Jakobus, kita akan melihat tugas-tugas Gereja sebagai Sakramen Kerahiman; bentuk-bentuk usaha Gereja dalam mewartakan belaskasih Allah khususnya melalui sakramen yang ada di dalamnya. Lagi pula, paper ini akan memberikan hasil wawancara kepada beberapa umat berkaitan dengan “Gereja sebagai Sakramen Kerahiman”.

Evangelisasi

Pewartaan Injil tentang kerahiman Allah adalah sentral, khususnya dalam sakramen-sakramen. Inilah yang Kardinal kasper katakan sebagai tugas pertama Gereja, yakni mewartakan kabar belaskasih. Dalam situasi saat ini, di mana banyak orang yang hidupnya tidak mengakui adanya Allah, Gereja harus hadir sebagai pembawa pesan belaskasih.

Kardinal Walter Kasper mengatakan bahwa Gereja adalah sakramen yang terus menghadirkan Kristus di dunia secara efektif. Lebih lagi, Gereja merupakan sakramen Kerahiman/belaskasih. Gereja sendiri dibentuk oleh belaskasih Kristus, Gereja melimpahkan belaskasih Kristus kepada seluruh anggota dan semua pendosa. Bagaimanapun, kita harus mengerti satu hal: sebuah gereja yang tanpa belaskasih dan tanpa pengampunan bukan lagi gereja Yesus Kristus.[1]

Kasper menegaskan bahwa belaskasih haruslah disebarkan ke seluruh anggota dalam Gereja dan semua orang yang berada di luar Gereja. Belaskasih hidup dalam Gereja dan berasal dari Roh Kudus. Casper menyadari bahwa tidak hanya anggota internal gereja, tetapi juga banyak anggota luar Gereja yang kelihatan hidup dalam kasih Roh Kudus. Kita harus memberi hormat dan mencontoh teman-teman kita yang non-Katolik dan bahkan yang non-Kristen yang telah menunjukkan karya belaskasih dari Roh Kudus. Lebih lagi, kita yang merupakan bagian dari Gereja yang nyata harus melakukan segala hal dalam semangat kasih dan menyatakannya belaskasih dalam segala tindakan kita baik itu secara badani dan spiritual. Pengalaman belaskasih yang hidup dalam Roh Kudus inilah dasar dari ekumene dan dialog antariman.

Mengutip perkataan Paus Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II, Kasper menegaskan bahwa Gereja mesti menjadi saksi belaskasih Allah melalui tiga langkah. Pertama, Gereja harus mewartakan belaskasih Allah. Kedua, Gereja harus menyediakan belaskasih Allah kepada umat dalam sakramen belaskasih, Sakramen Rekonsiliasi. Gereja juga harus mengizinkan belaskasih Allah menampak dan disadari dalam struktus-strukturnya yang konkret, seluruh hidup dan bahkan hukum-hukumnya.[2]

Baptis, Ekaristi dan Rekonsiliasi adalah sakramen-sakramen yang merayakan dan melimpahkan belaskasih Allah kepada setiap anggota Gereja. Demikian pula perayaan Ekaristi memberi kekuatan untuk mengampuni dosa-dosa kita setiap hari. Inilah sakramen kesatuan dan cinta, yang mempersatukan kita secara lebih mendalam dengan Yesus Kristus dan di antara kita satu sama lain. Sama seperti yang dikutip RD. Jakobus dalam SC.no. 1, “Ekaristi Kudus adalah karunia pemberian diri Yesus Kristus, yang mengungkapkan pada kita kasih Allah yang tak terbatas kepada setiap orang, laki-laki dan perempuan.”[3]

Rekonsiliasi, Sakramen Belaskasih

Sakramen Rekonsiliasi sangat dianjurkan dan dihargai oleh banyak orang kudus, seperti Katarina dari Siena, Alfonsus Liguori, pastor dari Ars, Pafre Pio, Suster Faustina, dan banyak lainnya.[4] Sakramen ini haruslah dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pengembangan kehidupan spiritual. Akan tetapi, Kasper melihat bahwa Sakramen Rekonsiliasi dalam Gereja tidak lagi diperhatikan. Ia mengistilahkan hal ini sebagai “a deep wound” atau “sebuah luka yang dalam”.

Bagi Kasper, Sakramen Rekonsiliasi adalah perwujudan sejati dan esensial dari kehidupan Gereja. Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tempat perlindungan bagi para pendosa, termasuk kita semua. Sama seperti yang ditegaskan oleh RD. Jacobus bahwa secara langsung dan nyata, kita menemukan Kerahiman Allah, ketika Yesus berkata, “Dosa-dosamu diampuni”.[5] Setiap orang yang dengan rendah hati mengakui dosa-dosanya dan kemudian dikatakan “aku membebaskanmu,” secara konkret dan personal merasakan di dalam hatinya kebebasan, damai dan sukacita yang sakramen limpahkan.

Ada dua umat yang saya wawancarai dan mereka mengakui bahwa Sakramen Rekonsiliasi sangat membantu mereka dalam rangka merenungkan dan menghayati kerahiman Allah.[6] Narasumber pertama, seorang ibu menyatakan bahwa dirinya terbantu dengan Sakramen Rekonsiliasi untuk mengurangi kadar kebenciannya kepada sesama yang berbuat salah padanya. Narasumber kedua, seorang anak SMA mengakui bahwa dengan mendapatkan Sakramen Rekonsiliasi atau yang biasa dikenal sakramen tobat membuat hatinya merasa lebih lega. Perasaan lega yang dimaksud adalah perasaan syukur karena merasa dosanya telah diampuni. Dari sini kita pun dapat mengerti betapa bermanfaatnya sakramen pengampunan ini bagi pengembangan spiritual kita. Lebih lagi, Sakramen Pengampunan sangat berguna untuk merasakan kerahiman Allah dan menjadi semangat untuk menunjukkan kerahiman Allah kepada sesama.

 

Pastoral Kerahiman[7]

Kerahiman Allah haruslah melingkupi seluruh kehidupan Gereja. Tidak mungkin Gereja memberi kesaksian yang terpercaya tentang Kristus, wajah Kerahiman Allah, sementara rohaniwan memberi kesan seperti para bangsawan kaya. Gereja hanya dapat menjadi Gereja bagi mereka yang miskin kalau para umat beserta para pejabat Gereja menghayati hidup miskin.

Lebih ditekankan lagi tata peraturan Gereja yang kurang mencerminkan kerahiman Allah. Hal ini mencerminkan ketidakpahaman terhadap apa yang dimaknai oleh perjanjian Baru dengan kerahiman dan terhadap dimensi pastoral Gereja. Sering kali, yang terjadi hanya pembongkaran praktik yang kaku dan legalistik tanpa membangun praktik baru yang sesuai dengan Injil. Hal ini mengakibatkan kekosongan yang mengakibatkan skandal dan mengarah pada krisis-krisis serius dalam Gereja.

Seorang Ibu asal paroki Katedral mengakui bahwa seringkali dirinya tidak merasakan kerahiman Allah di dalam Gereja ketika ada romo yang bersikap “arogan” terhadap umat yang tidak mampu.[8] Hal ini membuat umat yang tidak mampu itu kemudian merasa minder. Lebih-lebih hal ini disebabkan romo tersebut lebih suka bergaul dengan orang yang kaya. Mendengar perkataan umat ini seharusnya menjadi tamparan bagi para rohaniwan yang kurang peka terhadap misinya di dunia untuk mewartakan kerahiman Allah khususnya kepada mereka yang miskin.

 

Penutup

Jelaslah bahwa Gereja telah menampakkan wajah Kerahiman Allah melalui sakramen-sakramen yang ada di dalamnya. Terlebih Sakramen Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, kedua sakramen ini menunjukkan perwujudan sejati dan esensial dari kehidupan Gereja. Sakramen Ekaristi memberi kekuatan untuk mengampuni dosa-dosa kita setiap hari dan mempersatukan kita secara lebih mendalam dengan Yesus Kristus dan di antara kita satu sama lain. Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tempat perlindungan bagi para pendosa, termasuk kita semua. Sebuah tempat untuk melatih kehidupan spiritual kita. Lagi pula, Sakramen Rekonsiliasi dapat menjadi sarana bagi kita untuk melihat besarnya kerahiman Allah dalam hidup kita. Oleh karena itu, usaha yang mesti dilakukan para anggota Gereja adalah menghayati lebih dalam sakramen-sakramen yang disediakan dalam Gereja. Tidak lupa pula untuk mengaktualisasikan rahmat belaskasih dalam sakramen-sakramen ini dalam kehidupan sehari-hari. Kita mesti menunjukkan kerahiman Allah khususnya kepada mereka yang kecil dan miskin. Untuk itulah Gereja disebut sebagai Sakramen Kerahiman Allah.

 

Daftar Pustaka

Kasper,Walter. Mercy: The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life. Paulist Press:New Jersey. 2014.

Tarigan, Jacobus Pr. Kerahiman-Jati Diri Kristiani. OBOR:Jakarta. 2015.

 

[1]We must, however, be clear about one thing: A church without charity and without mercy would no longer be the church of Jesus Christ.” dalam Kasper,Walter, Mercy: The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life, (Paulist Press:New Jersey, 2014), 158.

[2] “The church must proclaim the mercy of God…” dalam Kasper,Walter, Mercy: The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life, 159.

[3] Tarigan, Jacobus Pr, Kerahiman-Jati Diri Kristiani, (OBOR:Jakarta, 2015), 72.

[4] Kasper,Walter, Mercy: The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life,164.

[5] Tarigan, Jacobus Pr, Kerahiman-Jati Diri Kristiani,  72.

[6] Narasumber pertama merupakan seorang Ibu Rumah Tangga asal Paroki MKK. Wawancara dilaksanakan pada hari Minggu, 20 Maret 2016. Sedangkan Narasumber kedua merupakan seorang siswi SMAN 05 Sumur Batu. Wawancara dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Maret 2016.

[7] Bagian ini sebagian besar diringkas dari buku Tarigan, Jacobus Pr, Kerahiman-Jati Diri Kristiani, 76-80.

[8] Wawancara dilakukan hari Senin, 21 Maret 2016 via Whats app.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: