Tanggungjawab Seorang Ilmuwan

Tanggungjawab Seorang Ilmuwan

Oleh Alexander Ivan
“The war is won, but the Peace is Not…” Kalimat ini kalau boleh dikatakan merupakan ungkapan kesedihan Einstein melihat dunia pasca peperangan. Menurut Einstein memang perang telah dimenangkan tetapi tidak dengan kedamaian. Walau perang telah usai, penindasan, penjajahan dan kesenjangan ekonomi masih dialami beberapa negara di dunia ini. Lantas, apakah alat pertahanan negara (senjata) masih diperlukan demi menjaga perdamaian? Toh, perdamaian belum dapat dicapai dengan meledaknya bom atom? Tulisan ini akan memaparkan pendapat Einstein berkaitan dengan perang dan tanggungjawab fisikawan dalam usaha pengembangan senjata.
Kata Kunci : Einstein, Perdamaian, Bom Atom

PENGANTAR

Tahun 2015 yang lalu kita sempat dihebohkan dengan “perlombaan” senjata yang dilakukan antar negara, Korea Utara dengan Korea Selatan, Amerika dengan Russia. Masing-masing negara memperkuat diri sendiri demi mencegah serangan dari pihak luar atau pun untuk melakukan serangan kepada musuh mereka dengan mengoptimalkan kinerja senjata tempur yang mereka miliki.

Kelompok-kelompok industri kuat memfokuskan diri dengan sangat baik pada pengembangan dan produksi senjata-senjata di seluruh dunia. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga perjanjian perdamaian dari pertentangan-pertentangan internasional. Di balik keberhasilan kelompok industri ini ada peran para ilmuwan di dalamnya. Apakah tidak ada beban moral bagi para ilmuwan yang mengembangkan senjata yang memiliki daya hancur yang luar biasa? Untuk itu kita akan melihat pandangan Einstein selaku ilmuwan yang termasyur berkaitan dengan tanggungjawab para ilmuwan khususnya bagi mereka yang membantu pembuatan bom atom.

PERDAMAIAN

Sejak dulu banyak orang merindukan kedamaian. Akan tetapi, tetap saja ada peperangan yang tak dapat dihindari. Lihat saja pada abad 21 ini, peperangan masih berlangsung di beberapa negara. Seakan tidak ada yang berubah sejak zaman nabi Muhammad, perang antara orang yang menindas dengan orang yang merasa ditindas. Misalnya, perang yang pernah terjadi di Badar. Perang ini diperbolehkan nabi sebagai bentuk perlawanan umat muslim yang mencoba bertahan sekian lama dibawah penindasan kaum Kuraisy.[1]

Walaupun tampaknya peperangan tak dapat dihilangkan dari peradaban manusia, kita tetap harus memperjuangkan perdamaian. Orang yang benar-benar hebat dari generasi pendahulu mengakui pentingnya menjaga perdamaian internasional. Einstein menilai bahwa secara teknis kemajuan-kemajuan dari masa kita telah mengubah dalil etika ini menjadi sebuah persoalan hidup dan mati peradaban manusia. Tidak hanya menjadi dalil belaka, persoalan ini menghasilkan kewajiban moral bagi kita untuk turut aktif memberikan solusi dari masalah perdamaian; sebuah kewajiban/tugas yang apabila tidak diperhatikan orang dapat dilupakan.

Persoalan perdamaian tentu tidak dapat dilimpahkan kepada pemerintah-pemerintah dunia saja tetapi juga seluruh rakyat dunia. Pemerintah mesti memastikan semangat perdamainan ini ada dalam hati dan pikiran rakyatnya. Menurut Einstein, pada masa pemerintahan demokrasi saat ini, takdir dari negara-negara terletak di rakyatnya sendiri; masing-masing individu mesti menanggung kewajiban ini di dalam ingatannya.

Menarik apabila kita melihat tiga surat yang ia kirimkan ke teman-teman perdamaiannya.[2] Di dalam surat pertama ia mengatakan bahwa kita tidak dapat berputus asa terhadap kemanusiaan, sejak kita adalah manusia itu sendiri. Ia meyakini bahwa pasti ada individu-individu yang aktif dan tidak putus asa terhadap masalah kemanusiaan ini.

Pada surat kedua ia menambahkan bahwa jika kita berhasil dalam menghapus wajib militer, kita akan mampu mendidik para pemuda dalam semangat perdamaian, sukacita dalam hidup, dan cinta antarciptaan. Dengan ini Einstein bermaksud menghancurkan tiga kekuatan besar dalam diri manusia, yakni kebodohan, ketakutan dan keserakahan.[3]

Pada surat yang ketiga ia menegaskan bahwa industri persenjataan merupakan bahaya terbesar yang menimpa manusia. Di balik itu tersembunyi kekuatan jahat yang merajarela di mana-mana.[4] Einstein sangat tidak senang melihat industri-industri persenjataan yang mengekspor produk mereka ke perang.

Dari ketiga surat ini nampak bahwa Einstein sangat peduli pada perdamaian dunia. Ia sangat semangat untuk mendorong semua orang agar menjadi agen perdamaian; agen pejuang kemanusiaan. Dengan demikian kita diajak untuk melawan tiga kekuatan besar dalam diri kita yang mengancam kemanusiaan kita, yakni kebodohan, ketakutan dan keserakahan. Dengan demikian pula Einstein menolak semua kegiatan yang melawan terwujudnya perdamaian termasuk kegiatan perjual-belian senjata apalagi bom atom.

 

SEJARAH BOM ATOM

Berbicara mengenai bom atom, ingatan kita kembali ke peristiwa Hirosima dan Nagasaki di bulan Agustus tahun 1945. Peristiwa itu merupakan gambaran dari kedahsyatan (kengerian) dari energi atom. Kedua buah bom atom dengan julukan Little boy dan  Fat Man yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki telah menghasilkan kehancuran dan kematian dengan jumlah yang sangat besar.

Apabila kita lihat dalam buku Manhattan:The Army and The Atomic Bomb ada kisah yang panjang sebelum akhirnya ditemukan reaksi fisi dari energi atom.[5] Keterlibatan tidak langsung Einstein dalam hal ini adalah konfirmasi teori realivitas yang ia usulkan tahun 1905. Teorinya itu adalah bahwa materi dan energi itu melulu berbeda bentuk dari hal yang sama. Massa atom dari nucleus lithium, hydrogen dan helium faktanya sangat sedikit dibandingkan penggambungan massa dari dua nucleus helium. Jelas bahwa formasi dua nucleus helium ini mengalami pelepasan massa. Massa yang hilang ini dikonversi menjadi energi dalam sebuah hitungan yang dapat dihitung dengan rumus persamaan Einstein E=mc2 ( energi sama dengan masa yang dikalikan dengan kecepatan cahaya pangkat dua).

Nampaknya jalan untuk pembuatan bom atom benar-benar terbuka ketika Enrico Fermi (1934) di Italia melakukan eksperimen pemecahan atom dengan tembakan neutron. Di antara substansi yang ia tembakkan dengan neutron-neutron secara lambat adalah uranium yang secara alami bersifat radioaktif dan terberat dari semua elemen. Akan tetapi, selama empat tahun berikutnya ia belum menyadari bahwa ia telah menemukan reaksi fisi.[6]

Penemuan Fermi kemudian diteguhkan oleh Otto Hahn, Lise Meitner dan Fritz Strassmann.  Mereka menemukan bahwa uranium terbelah menjadi dua bagian, menghasilkan isotop lebih ringan, barium dan krypton serta menghasilkan pelepasan energi yang sangat besar. Kemudian, eksperimen fisi uranium ini dianalisis oleh Lise Meitner dengan mengkonversi massa yang hilang (ketika atom uranium terbelah dua) menjadi energi menurut persamaan E=mc2 .

Pada rentang tahun 1939, para ilmuwan di Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Persatuan Soviet, Jepang dan negara-negara lainnya bekerja secara intensif mengetahui secara teori dan eksperimen fisi dari atom. Pada akhir tahun itu, hampir seratus peper telah dipublikasi.[7] Pada tahun itu, khususnya lembaga persenjataan Jerman sudah membuat kelompok peneliti untuk mempelajari kemungkinan energi atom. Akan tetapi, nampaknya mereka berada selangkah di belakang Fermi dan kawan-kawan.

Pada tanggal 11 Oktober 1939, Einstein menulis surat kepada Presiden Roosevelt. Di dalam surat itu ia memberitahu bahwa Fermi dan Szilard di Amerika mampu memungkinkan terjadinya sebuah reaksi berantai nuklir dalam massa uranium yang besar. Fenomena ini akan mengantar pada perakitan bom, dan dapat diyakini mempunyai kekuatan yang ekstrim kuat. Satu bom jenis ini yang dapat diangkut dengan kapal saja dapat menghancurkan sebuah pelabuhan seluruhnya dan beberapa daerah sekitarnya.

Presiden Roosevelt kemudian mendukung pembuatan bom atom demi mencegah Jerman untuk membuatnya terlebih dahulu. Putusan untuk membuat bom atom resmi dibuat tanggal 7 Desember 1941 di bawah koordinasi Office of Scientific Reseaech and Development (OSRD) yang dikelola oleh National Deffense Research Committee. Dengan demikian, para ilmuwan mendapat banyak dukungan dana dan fasilitas. Dua bom atom pertama yang dihasilkan diberi nama Little boy dan  Fat Man.

PELUNCURAN BOM ATOM[8]

Menurut Einstein, peluncuran energi atom tidak menciptakan masalah yang baru. Hal ini melulu hanya membuat kebutuhan untuk memecahkan persoalan peperangan yang sudah ada lebih mendesak. Seseorang dapat mengatakan bahwa hal ini telah merusak kita secara quantitatif, bukan qualitatif. Selama masih ada negara-negara yang berkuasa memiliki kekuatan besar, perang tak dapat dielakkan. Memang tak dapat dikatakan secara pasti kapan perang akan terjadi, tetapi yang pasti adalah perang pasti terjadi. Hal ini nyata terjadi sebelum dibuatnya bomb atom.

Apa yang berubah hanyalah kehancuran dari perang. Einstein meyakini bahwa tidak mungkin peradaban akan musnah dalam sebuah perang dengan bom atom. Mungkin dua per tiga penduduk bumi akan terbunuh. Akan tetapi, tetap ada cukup orang yang mampu berpikir dengan cukup buku-buku, yang akan memulai dan memulihkan kembali peradaban.

Einstein kemudian mengingatkan risiko yang dimiliki apabila rahasia atom ini diberikan kepada PBB atau Soviet. Hal yang terpenting dilakukan adalah menjauhkannya dari penggunaan untuk memperoleh kekuasaan. Dengan harapan, hal ini dapat membentuk perdamaian melalui pemerintahan dunia.

Einstein membantah bahwa tidak ada satu negara pun mempuyai uang yang cukup demi perkembangan atom. Atom adalah sesuatu yang kerap kali membuat rusak perekonomian negara. Bagi Einstein uang bukanlah masalah asal ada tekat, khususnya bagi negara yang memiliki material-material dan sumber daya manusia dan mempunyai perhatian untuk mengembangkan kekuatan atom.

Einstein tidak menganggap dirinya sebagai bapa perilis energi atom.  Seperti yang telah kita lihat pada bagian awal, keterlibatannya dalam hal ini sangat tidak langsung. Ia pun tidak menyangka bahwa energi atom ini dilepaskan pada masa ia masih hidup. Ia hanya percaya bahwa secara teori energi atom ini mungkin. Bahkan ia sendiri tidak menyangka bahwa bila dipraktekkan akan menimbulkan reaksi berantai. Hal ini ditemukan oleh Hahn di Berlin yang kabur dari German dan memberikan informasi ini ke tangan Niels Bohr.

Bagi Enstein peluncuran bom atom pertama tidak membuat dunia aman dari perang, tetapi malah meningkatkan kehancuran dari perang. Pada masanya Einstein menilai bahwa publik mestinya diperingatkan akan kengerian dari perang atom. Akan tetapi, tampaknya publik menghilangkan kesadaran akan hal ini sebab mereka belum berusaha untuk mencegah perang. Publik semestinya tidak mengabaikan bahaya ini. Selain itu, publik mestinya tidak mendukung, dalam hubungannya dengan beban kehancuran, bom atom sebagai bentuk kehancuran ekonomi yang digunakan untuk penyerangan.

Einstein berharap dapat melihat semua bangsa membentuk  perkumpulan supranational yang menampung kekuatan-kekuatan militer mereka. Dengan demikian terbentuk suatu pemerintahan dunia. Pemerintahan dunia ini kuat, menurut Einstein, apabila ia memiliki kekuatan seperti yang dimiliki sistem komunis di Timur. Kekuatan mereka adalah adanya karakter suatu agama dan menginspirasi emosi-emosi dari suatu agama. Di sinilah tugas dan kesempatan yang dimiliki para pengajar moral.

Para ilmuwan atom, pikir Einstein, telah diyakinkan bahwa mereka tidak dapat menyadarkan orang-orang Amerika akan kebenaran dari era atom dengan logika saja. Ada hal lain yang mesti ditambahkan yakni kedalaman kekuatan dari emosi yang mana merupakan bahan dasar dari agama. Diharapkan bahwa tidak hanya gereja-gereja, tetapi juga sekolah-sekolah, kampus-kampus dan organisasi pemimpin opini publik untuk bertindak sebagaimana tanggungjawab mereka yang unik untuk urusan ini.

TANGGUNG JAWAB FISIKAWAN[9]

Tak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan dari suatu perang tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih strategi yang digunakan tetapi juga dan terutama persenjataan yang dipakai. Semakin efisien dan optimal senjata yang digunakan, semakin besar pulalah kemungkinan suatu perang dimenangkan. Oleh karena senjata itu efisien, suatu negara tidak perlu mengorbankan banyak nyawa dan uang dalam suatu peperangan.

Saya melihat di sinilah peran dari para fisikawan dalam hal penginovasian senjata. Dengan demikian, para fisikawan pun turut ambil andil yang penting dalam suatu peperangan. Sederhananya, tanpa mereka para fisikawan yang bejeripayah mengoptimalkan kinerja suatu senjata, suatu negara dengan mudah dikalahkan.

Lantas, muncul dibenak saya dan mungkin anda semua suatu pertanyaan tentang beban moral yang dirasakan para fisikawan. Apakah tidak muncul rasa bersalah dalam diri para fisikawan yang telah mengefisienkan suatu senjata; dalam arti lebih optimal dalam menghasilkan kehancuran? Apakah campur tangan mereka memang diperlukan dalam peperangan atau memang sebaiknya mereka tidak turut ikut campur dalam peperangan?

Bagi Einstein para fisikawan tidak menemukan diri mereka dalam posisi seperti Alfred Nobel. Kita tahu bahwa Alfred menemukan bahan peledak yang sangat kuat pada masanya, dalam arti mampu menghasilkan kehancuran yang sangat kuat. Karena merasa bersalah telah menemukan peledak ini, ia mendirikan penghargaannya untuk setiap promosi kedamaian dan karya perdamaian.

Menurut Einstein, para fisikawan yang berpartisipasi dalam pembuatan senjata yang sangat berat dan berbahaya terusik oleh perasaan yang sama atas tanggungjawabnya. Einstein dan para fisikawan lainnya menerangkan bahwa alasan mereka membantu menciptakan senjata baru adalah untuk mencegah para musuh kemanusiaan untuk memperoleh duluan senjata baru tersebut. Musuh-musuh itu adalah mereka yang mempunyai mentalitas Nazi, yang tak terbayangkan kehancuran dan perbudakan yang mereka lakukan di dunia. Untuk itu para ilmuwan menyerahkan senjata ini ketangan Amerika dan Inggris yang dipercaya sebagai pejuang perdamaian dan kebebasan

Sampai saat ini Enistein pun mengakui bahwa tidak ada garansi dari perdamaian. Memang perang telah dimenangkan tetapi tidak dengan kedamaian. Kekuatan-kekuatan besar, bersatu dalam peperangan, terbagi atas perjanjian-perjanjian perdamaian. Dunia telah berjanji untuk menegakkan kebebasan dari rasa takut, tetapi kenyataannya ketakutan meningkat tajam sejak berakhirnya perang. Ia melihat sebagian dunia mengalami kelaparan  saat yang lain malah hidup dalam kelimpahan. Ia juga masih melihat bahwa para pasukan “kebebasan” justru menembaki populasi yang menginginkan kemerdekaan dan kesetaraan sosial.

Gambaran dunia setelah perang tidak cerah. Situasi ini meminta sebuah kemajuan yang berani, untuk sebuah perubahan yang radikal dari sikap para fisikawan, dalam seluruh konsep politik. Ia berharap semoga semangat yang mendorong Alfred Noble untuk mendirikan institusinya yang agung, semangat kepercayaan dan keberanian dari kebajikan dan persahabatan di antara manusia,  merasuk ke dalam pikiran-pikiran mereka yang memiliki pilihan atas nasib kita.

PENUTUP

Memang de facto sampai sekarang kehidupan manusia tidak pernah lepas dari peperangan. Perang selalu terjadi ketika ada suatu negara yang berkuasa ingin memperoleh kuasa yang lebih. Akan tetapi, seperti yang pernah Einstein katakan, kita jangan sampai menyerah untuk terus berusaha menyerukan perdamaian. Tidak hanya menjadi dalil/ucapan belaka, persoalan ini menghasilkan kewajiban moral bagi kita untuk turut aktif memberikan solusi dari masalah perdamaian; sebuah kewajiban/tugas yang apabila tidak diperhatikan akan terlupakan.

Begitu pula soal peluncuran energi atom tidak menciptakan masalah yang baru. Baginya, peluncuran bom atom pertama tidak membuat dunia aman dari perang, tetapi malah meningkatkan kehancuran dari perang.  Hal ini melulu hanya membuat kebutuhan untuk memecahkan persoalan peperangan yang sudah ada lebih mendesak. Dengan demikian, para ilmuwan dituntut tanggungjawabnya dalam setiap keikut-sertaannya pada pengembangan senjata.

Melihat gambaran dunia setelah perang yang tidak cerah, kita dituntut untuk melakukan sebuah kemajuan yang berani, untuk sebuah perubahan yang radikal dari sikap para saintis, dalam seluruh konsep politik. Einstein berharap semoga semangat yang mendorong Alfred Noble untuk mendirikan institusinya yang agung, semangat kepercayaan dan keberanian dari kebajikan dan persahabatan di antara manusia,  merasuk ke dalam pikiran-pikiran setiap manusia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Einstein, Albert.  Ideas and Opinions. Crown Publishers,Inc.:New York. 1954.

Jones, Vincent C.. Manhattan:The Army and The Atomic Bomb. Center of Military Histori United States Army: Washington, D.C. 1985.

Taufik, Abdullah, dkk. ed.. Ensiklopedi Tematis Dunia  Islam. Ichtiar Baru van Hoeve:Jakarta. 2002.

[1] Taufik, Abdullah, dkk. ed., Ensiklopedi Tematis Dunia  Islam, Ichtiar Baru van Hoeve:Jakarta, 2002, 2.

[2] Lih. “Three Letters To Friends of Peace” dalam Einstein, Albert, Ideas and Opinions, (Crown Publishers,Inc., 1954), 108-110.

[3] Lih. “…three great powers: stupidity, fear, and greed.” dalam Einstein, Albert, Ideas and Opinions,, 109.

[4] Lih.”…It is the hidden evil power behind…” dalam Einstein, Albert, Ideas and Opinions,110.

[5] Lih. Jones, Vincent C., Manhattan:The Army and The Atomic Bomb, (Center of Military Histori United States Army: Washington, D.C, 1985), 6.

[6] Lih. “The most important result of Fermi’s work was not fully understood for another four years.” dalam Jones, Vincent C., Manhattan:The Army and The Atomic Bomb, 6.

[7] Jones, Vincent C., Manhattan:The Army and The Atomic Bomb, 8.

[8] Lih. Einstein, Albert, Ideas and Opinions, 115-116.

[9] Lih. “THE WAR IS WON BUT THE PEACE IS NOT” dalam Einstein, Albert, Ideas and Opinions, 115-131.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *