Hari Minggu Biasa XX

Hari Minggu Biasa XX

Hari Minggu Biasa XX
Bacaan I : Yes 56:1.6-7
Bacaan II : Rm 11:13-15.29-32
Bacaan Injil : Mat 15: 21-28

“Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki”

Kasih seorang ibu yang memohon rahmat kepada Tuhan demi buah hati tercinta melampaui keterbatasan nalar dan logika insani. Inilah iman, Iman menyelamatkan dan memerdekakan. Iman melampaui segalanya, bahkan di saat sulit yang tidak ada harapan dan menjerumus pada kegagalan, iman penuh kesetiaan akan membawa pada keselamatan.

Bacaan Injil minggu ini, menunjukkan sikap Yesus yang amat keras. Ia mengumpamakan perempuan asing sebagai anjing. Nampaknya Yesus amat menunjukkan sikap eksklusif terhadap golongannya sendiri dengan memberikan julukan “anjing” pada perempuan yang meminta rahmat ini. Tentu, perkataan ini akan terasa amat menyakitkan bila kita mengalami perlakuan yang diterima oleh perempuan ini. Akan tetapi, julukan anjing ini tidak meruntuhkan iman dan permohonan seorang ibu demi seorang yang dicintainya. Bahkan, jika dilihat lebih lanjut, jawaban dan ungkapan iman seorang ibu mampu mengubah sikap Yesus sehingga menunjukkan belas kasihan kepada sang perempuan dengan jawaban “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.”

Transformasi jawaban Yesus ini tidak berarti bahwa iman perempuan ini serta merta mengubah Yesus untuk peduli kepadanya. Sesungguhnya, sejak semula Yesus menunjukkan belas kasihNya kepadanya. Yesus tidak mengusir perempuan yang terus-menerus berteriak minta tolong kepadNya, bahkan ketika murid-muridNya meminta kepada Yesus untuk meminta Dia mengusirnya, yang dilakukan Yesus justru berdialog dengannya. Dialog inilah yang pada dasarnya menunjukkan awal kepedulianNya kepada perempuan asing ini.

Bila ditilik lebih lanjut, sesungguhnya Yesus sendiri tidaklah bersikap eksklusif dengan hanya memperhatikan bangsa Israel. Justru, Ia sendiri keluar dari daerahNya; Ia pergi ke Tirus dan Sidon yang dihuni oleh orang-orang non-Israel. Tidak salah jika ada orang asing mendengar tentang segala perbuatanNya dan kemudian meminta rahmatNya. Di sinilah letak tindakan misioner Yesus. Sekalipun Ia menjawab dan mengumpamakan perempuan ini seperti anjing, Yesus justru melihat iman yang amat besar di tengah-tengah orang kafir. Ia menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan kepada semua orang yang ingin percaya kepadaNya.

Tidak hanya itu, Yesus pun ingin mengubah mentalitas para muridNya yang sangat eksklusif. Yesus sendiri telah membuka diriNya untuk orang asing. Sekalipun para murid memintaNya agar mengusir perempuan ini, Ia tetap mempertahankan bahkan memberikan rahmat mukzijat. Ia ingin para muridNya mau menerima orang asing agar menerima rahmat keselamatan dari Tuhan. Dari hal inilah semestinya kita sebagai umat Kristiani belajar agar berani terbuka kepada setiap orang yang menginginkan keselamatan.

Berhubungan dengan orang yang memiliki pandangan yang berbeda, agama berbeda dan kebudayaan berbeda terkadang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain dan membuat kita bersikap eksklusif. Sikap itulah yang membuat kita takut untuk berhubungan dengan orang lain, padahal banyak orang menginginkan uluran tangan kita. Umat Kristiani, siapapun itu adalah perpanjangan tangan rahmat Tuhan. Oleh Karena itu, hendaklah kita semua berani terbuka terhadap orang yang membutuhkan uluran kasih kita.

Di lain sisi, hendaknya kita tidak jemu-jemunya meminta rahmat kepada Tuhan terus-menerus, sekalipun kita akan menerima kenyataan yang pahit. Akan tetapi, bagaimanapun kenyataan yang kita hadapi haruslah diterima dengan keterbukaan yang penuh dan kepasrahan yang total kepada Tuhan sebab jika kita tetap setia, tentu rahmat Tuhan tidak akan meninggalkan kita, melainkan Ia akan memberikan yang terbaik bagi kita, umat yang dicintaiNya.

Semoga rahmat Tuhan senantiasa menguatkan kita selalu. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: