Renungan Minggu Palma

Renungan Minggu Palma

Bacaan: Mat 21: 1 – 11 & Mat 26 : 14 – 27:66

Hari ini kita memulai Pekan Suci dengan merayakan Minggu Palma. Barangkali 40 hari masa Prapaskah yang telah kita lewati ini memberi beragam kesan pada kita masing-masing, tergantung dari cara kita menghayatinya. Bagi mereka yang menghayati 40 hari itu dengan sepenuh hati, pasti ada banyak kesan yang mereka dapatkan. Ini tidak berarti bagi mereka yang kurang menghayati atau tidak menghayati sama sekali lalu tidak memiliki kesan apa-apa terhadap masa Prapaskah tersebut. Terkadang Tuhan Yesus punya caranya sendiri yang sungguh misterius dalam menyentuh hati kita masing-masing.

Pertama-tama perlu disyukuri bahwa Gereja memberikan secara khusus waktu atau periode di mana kita bisa merenungkan Kisah “Salib Kristus” secara universal dalam masa pantang dan puasa ini. Salib Kristus memang seharusnya kita renungkan tidak hanya pada saat masa Prapaskah. Seluruh hidup kita sepanjang Tahun seharusnya menjadi sebuah refleksi Agung atas rangkaian kisah penyelamatan Kristus. Maksudnya adalah tidak berarti hanya ketika Prapaskah saja kita baru boleh merenungkan sengsara Kristus. Sepanjang tahun kita perlu merenungkannya. Gereja mengkhususkan masa ini agar kita bisa memiliki kesempatan untuk merenungkannya secara lebih dalam.

Saya sendiri memiliki kesan pribadi pada masa khusus yang diberikan oleh Gereja untuk lebih dalam merenungkan kisah sengsara dan salib Kristus. Saya merasa di tahun pertama saya di Skolastikat Xaverian ini, saya mendapat tantangan bagaimana menghayati seluruh tindakan saya dalam Kristus. Jika sebelumnya di masa Novisiat (Tahun Rohani) hal ini begitu akrab dengan saya, sekarang ini sepertinya menghidupi Kristus dalam segala hal itu memberi suatu tantangan tersendiri. Pasalnya dalam kesibukan sehari-hari saya sebagai seorang rohaniwan terkadang melakukan segala sesuatu secara lepas. Ketika sedang berdoa saya tekun dalam doa itu, ketika sedang belajar, yang saya lakukan hanya belajar, ketika sedang bekerja saya biasanya hanya bekerja dengan sepenuh hati, ketika sedang mengayuh sepeda menuju kampus, ya saya hanya mengayuh sepeda dengan hati-hati. Lalu pertanyaannya, apa yang kurang di sini? Saya belum bisa secara utuh menjiwai Kristus dalam segala tindakan saya. Seharusnya jika saya sudah hidup penuh dalam Kristus, maka belajar, bekerja, kerasulan atau bahkan mengayunh sepeda harusnya menjadi penghayatan dari doa saya.

Saya merasa dalam masa Prapaskah ini saya perlu menghayati hidup dalam Kristus dengan lebih sungguh. Maka dari itu bentuk pantang dan puasa saya lebih saya arahkan pada sikap batin saya dalam menghayati kegiatan harian saya agar tak terpisahkan dalam Doa. Jadi saat belajar saya mencoba belajar sambil menghayati Kristus di dalamnya, begitu pula saat bekerja, kerasulan maupun saat mengayuh sepeda ke kampus. Saya berusaha memberi makna yang lebih tinggi (makna tentang Kristus) dalam setiap tindakan saya. Saya bersyukur karena akhirnya apa yang saya programkan dalam masa Prapaskah ini membantu saya memiliki kepribadian yang lebih matang. Saya lebih bisa bersikap tenang dan memikirkan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum bertindak.

Bacaan hari Minggu Palma ini juga seperti merangkum masa prapaskah yang sudah saya lewati. Jika kita lihat bersama-sama bacaan hari minggu ini terdiri dari dua bacaan yang menurut saya pribadi sangat Kontras. Bacaan yang satu menunjukkan Yesus sebagai Raja yang dielu-elukan sebelum memasuki kota suci, Ia disambut dengan sorak kegembiraan. Akan tetapi bacaan yang lain menunjukkan bagaimana Raja itu berakhir di palang penghinaan. Mungkin sekilas kisah ini sungguh ironis. Tetapi ketika coba saya renungkan lebih dalam, ternyata saya menemukan makna yang amat dalam.

Pertanyaan yang menuntun refleksi saya adalah di manakah orang-orang yang berteriak hosana Putra Daud, saat Yesus dihakimi dan diminta untuk disalibkan. Barangkali memang orang yang sama yang saat di gerbang Yerusalem menyambut Yesuslah yang kemudian meneriaki kata-kata: “Salibkan Dia” saat pengadilan Yesus. Sorakan orang-orang saat menyambut Yesus menuju Yerusalem: “Hosana Putra Daud” dengan cepat berubah menjadi sorakan: “Salibkan Dia”.

Inilah cerminan diri kita manusia khususnya saya pribadi. Dalam suasana tertentu dengan semangat menyambut Yesus tapi dalam situasi yang lain secara tidak langsung ambil bagian dalam upaya penyaliban Yesus. Saya yang rapuh, yang plin-plan, yang tak mampu hidup penuh dalam Yesus nampak jelas dalam gambaran bangsa Israel di Yerusalem itu. Mungkin kita semua bisa bertanya pada diri kita masing-masing, semirip apa aku dengan orang-orang Israel yang menyoraki Yesus itu?

Masa Prapaskah yang telah saya jalani seolah memberi suatu jalan pada saya bagaimana saya bisa lebih konsisten untuk hidup utuh di dalam Kristus. Penghianatan yang dilakukan Yudas, sangkalan yang dilakukan Petrus bahkan mentalitas murid yang lari terbirit-birit saat Yesus ditangkap sepertinya ada dalam diri saya. Barangkali saya memang tidak lebih baik dari mereka. Satu hal yang saya miliki adalah hasrat yang kuat untuk kembali pada Kristus meskipun sudah jatuh berkali-kali. Meski sikap ini terkesan kurang ajar karena saya seperti tak tahu diri, setelah menghianati kemudian kembali lagi, lalu menghianati dan kembali, akan tetapi kurang lebih seperti inilah gambaran besar umat manusia. Siapa yang setelah bertobat lalu tidak pernah sama sekali mengulangi dosa yang sama seumur hidup. Ya mungkin ada tapi pasti hanya segelintir orang. Di sini yang ingin saya katakan adalah penting untuk ingat bahwa kita perlu kembali pada Kristus. Kristus yang bagaimana, Kristus yang BENAR.

Kenapa saya mengatakan bahwa kita perlu kembali pada Kristus yang benar? Itu karena seringkali kita kembali pada Kristus buatan kita masing-masing. Kita harus terus dalam perziarahan hidup kita ini mencari Kristus yang sejati. Saat kita merasa sudah tahu seluruhnya tentang Kristus, justru itu menjadi tanda yang paling utama bahwa kita tidak mengenal Kristus sama sekali.

Gambaran Yesus yang adalah Allah yang merupakan Raja dari segala raja seringkali membius otak kita dengan gambaran kekuasaan-kekuasaan duniawi. Yesus Kristus yang dalam bacaan Injil hari ini yang dibacakan di dalam gereja mau menunjukkan pada kita bagaimana Ia hadir untuk kita. Yesus yang wafat di salib memberi kita suatu gambaran besar mengenai seperti apa sosok Allah. Jika kita selama ini hanya berpikir bahwa Allah adalah sosok super power dan super magic kita perlu memahami Yesus yang tersalib secara lebih dalam. Yesus yang adalah Allah nampak jelas saat Ia disalib. Allah yang rela dihancurkan demi cinta-Nya yang amat luar biasa pada manusia. Ia yang justru lewat salib mau menunjukkan kebesarannya. Hal yang mungkin paradoks tetapi benar mau menunjukkan pada kita betapa Ia adalah Allah Kristiani yang mencintai kita dan rela dihancurkan demi kita. Ini merupakan pengalaman hidup saya dimana saya mulai merubah visi saya tentang Allah lewat Ia yang tersalib. Tirai bait Allah yang digunakan untuk menutupi dan memisahkan umat dari Dia yang transenden itu terbelah dua saat Yesus wafat di salib. Ini tanda bahwa tidak ada lagi penghalang yang menutupi manusia atau menghalangi manusia dalam upayanya mengenal dan melihat Allah secara lebih dalam.

Saya bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan pada saya lewat segala rahmatnya dan lewat renungan ini saya ingin berbagi pengalaman hidup yang real saya temukan dalam refleksi saya dalam masa prapaskah ini. Selamat menyambut Pekan Suci, Tuhan Yesus Memberkati.

Fr. Ambrosius R. Agung, SX.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: