Renungan Minggu Biasa VIII

Renungan Minggu Biasa VIII

Yes 49:14-15; 1Kor 4:1-5; Mat 6:24-34.

Bacaan Kitab Suci pada minggu ini mengingatkan kita soal harta dan kekuatiran. Gereja memulai refleksinya dengan soal harta. Penginjil sepertinya menghadapkan pembaca pada pilihan dan pilihan itu adalah harta bagi hidupnya. Kenyataan yang ditampilkan adalah tidak seorang pun dapat mengabdi dua tuan.  Seseorang tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. Dengan demikian, kita mesti memilih Allah atau harta duniawi. Kriteria terhadap harta yang dipilih adalah mampu menerangi jalan seperti mata yang menjadi pelita tubuh. Penginjil, hari ini juga, memberikan contoh kelemahan manusia dalam menentukan pilihan yaitu kekuatiran. Harta duniawi akan dengan mudah dipilih ketika berhadapan dengan situasi ini. Oleh karena itu, manusia perlu belajar dari kehidupan binatang yang tidak kuatir atas hari-hari hidupnya. Manusia perlu belajar dari burung di udara dan bunga bakung di padang.

Bacaan ini sebenarnya masih menjadi bagian panjang dari kotbah Yesus di bukit, terutama ajakan supaya kita menjadi sempurna seperti Bapa di surga (5:48). Perikop tentang harta dan kekuatiran, dengan demikian, dapat dipakai untuk melihat sifat Allah yang dapat dihidupi dalam rangka kesempurnaan seperti yang diharapkan oleh Yesus.

Untuk menjadi sempurna seperti Bapa, pertama-tama memilih untuk tidak mendua. Soal pemilihan terhadap harta sebenarnya mengantisipasi hidup Yesus itu sendiri, terutama soal pencobaan. Diantara berbagai pilihan Yesus lebih memilih merelakan dirinya sebagai konsekuensi perutusan dari  pada kenyamanan politik dan sebagainya. Dengan demikian, inspirasi salib menjadi contoh bagaimana pilihan terhadap harta seharusnya terjadi. Di dalamnya ada cinta, kepercayaan yang total dan pengorbanan.

Yesus mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah yang menjadi hartanya. Ia yakin akan kepastian hidup pada Bapa-Nya. Kepercayaan total memungkinkan sikap penyerahan dan ketidakkuatiran. Inspirasi ini, selayaknya menjadi pegangan orang beriman. Penginjil mengakui potensi kelemahan manusia atas hidup. Namun, penginjil juga mengingatkan konsekuensi hidup beriman, bahwa  makanan, minuman, uang dan sebagainya merupakan tanda cinta Allah dan merupakan ciptaan. Kekuatiran membuat umat berhenti pada pemenuhan kebutuhan manusiawi dan tidak melihat semua hal ini pada sumbernya yaitu Allah sendiri.

Dari bacaan Injil ini, kita mendapat pesan bahwa kesibukan harian yang dipengaruhi oleh kekuatiran, membuat Allah semakin terpisah dari kehidupan. Allah terpisah dari kehidupan karena manusia menemukan kesejatian hidup pada materi. Penginjil memberi kita solusi untuk belajar pada alam untuk melihat kemuliaan Allah sebagai harta yang pantas dipilih.

Fr. Yuventus Yonavan, SX

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: