Renungan Minggu Biasa VI

Renungan Minggu Biasa VI

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi……”

Bacaan Injil yang kita dengarkan pada hari minggu biasa keenam ini merupakan kelanjutan dari bacaan Injil yang telah kita dengar minggu lalu. Masih mengenai khotbah Yesus di bukit, seri kali ini merupakan ceramah bersambung dalam bab lima Injil Matius yang akan berakhir minggu depan. Khotbah Yesus kali ini cukup tajam dan bisa memicu kita untuk merefleksikan banyak hal. Bisa dikatakan bahwa setiap aspek kehidupan pada zaman itu ingin disentuh oleh Yesus pada khotbah di bukit.

Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa apa yang disinggung Yesus masih mengena pada diri kita masing-masing. Kita diberi kesempatan untuk meresapkan secara perlahan perkataan-perkataan yang Ia sampaikan pada hari ini. Istilahnya, untuk dapat melanjutkan refleksi minggu berikut, kita harus meletakkan fondasi yang kokoh terlebih dahulu sebab khotbah Yesus belumlah selesai sampai pada titik yang telah kita capai hari ini. Beranjak tanpa membawa apa-apa untuk hari esok akan membuat kita lupa dan bingung mengenai apa yang selanjutnya akan kita terima.

Untuk minggu ini, saya berhenti pada satu poin yang bagi saya cukup penting. Poin ini saya kutip dari perkataan Yesus hari ini, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga (Mat 7:10)”. Saya terkesan dengan kutipan ini karena bagi saya, kutipan ini menjadi pintu masuk untuk merenungkan perkataan-perkataan Yesus selanjutnya yang sering dimulai dengan “kamu telah mendengar…”

Ketika lama mengunyah kutipan ini, saya dibawa untuk melihat lebih jauh tentang hidup keagamaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Saya menemukan bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang tetap menjalankan praktek hidup keagamaan dalam rangka motivasi yang salah. Mereka menelan rumah janda-janda sedang mereka juga mengelabui mata orang orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka pun seperti kuburan yang dilabur putih namun di dalamnya penuh dengan kebusukan. Kemunafikan, itulah yang jadi ciri khas mereka sebagai tokoh-tokoh agama, namun justru mendapat kecaman dari Yesus (Bdk. Matius 23).

Untuk memberi kesaksian, tak cukuplah kiranya jika hanya melakukan praktek-praktek keagamaan semata. Jika hanya berhenti dalam struktur dan aturan keagamaan semata, maka praktek keagamaan itu terkadang menjadi kabur karena hanya untuk taat tanpa adanya internalisasi dalam diri. Keadaan inilah yang dengan gampang dimasuki oleh kemunafikan itu. Saya melakukan ini karena hukumnya memang begitu atau saya ke gereja karena saya ikut-ikutan saja dan takut dikata-katain sama orang. Keadaan ini akan semakin sulit karena lama-kelamaan, kita menjadi hamba kemunafikan itu.

Bagi saya, yang dimaksud Yesus dengan hidup keagamaan yang benar adalah menjadi seorang murid yang tahu bahwa sebenarnya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka (Bdk. Rom 8:28). Dengan demikian, kesaksian yang kita berikan tidak hanya berhenti pada praktek doa saja, melainkan juga dalam tindakan yang tidak munafik. Contemplatio in actio; Berdoa sambil bekerja. Di dalam setiap kegiatan, Allah pun turut hadir menyertai kita. Jika telah menyadari hal ini, kita pun dapat mengerti dan menjalankan hukum Taurat dengan baik.

Sesungguhnya, “Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapa pun untuk berdosa (Sir 15:20).” Kutipan yang ada pada bacaan pertama ini kiranya juga bisa membantu kita untuk semakin menyadari bahwa Allah senantiasa merencanakan kebaikan bagi kita. Marilah kita senantiasa melihat, mencari, dan mencintai Allah dan Yesus, Putra-Nya, dalam segala hal sebab Dialah yang telah mengangkat kita menjadi anak-anak dan saksi-Nya di dunia ini. Dengan menyadari cinta dan kebaikan-Nya, pada akhirnya kita pun mau tak mau harus bersyukur pada-Nya. Marilah kita meresapkan Injil hari ini agar kita tetap menjadi orang yang berbahagia serta menjadi garam dan terang bagi sesama.

Fr. Friwandi Nainggolan, SX

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: