Renungan Minggu Adven IV

Renungan Minggu Adven IV

Mari Belajar dari St. Yosef

Selamat jumpa bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Minggu ini merupakan minggu terakhir dalam masa Adven. Itu artinya, kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus sudah semakin dekat. Selama kurang lebih empat minggu, kita diantar oleh Gereja untuk merenungkan Sang Penyelamat itu, dan merenungkan bagaimana kesiapan kita untuk menyambut-Nya. Untuk renungan minggu keempat ini, saya berusaha mendalami sifat atau karakter tokoh Santo Yosef. Bagi saya, ia adalah salah satu contoh utama dalam mengikuti Yesus dan merupakan  salah satu tokoh utama dalam mengimani Allah. Dengan memahami sikapnya, kita akan mampu melihat bagaimana kita beriman kepada Allah. Apakah saya sudah beriman seperti Santo Yosef atau sebaliknya?

Dua sikap atau karakter Santo Yosef yang saya bagikan kepada bapak-ibu, dan saudara-saudari dari permenungan saya adalah,  pertama: Santo Yosef sebagai manusia biasa dan kedua Santo Yosef sebagai orang beriman. Sebagai orang biasa, ia tidak memahami segala apa yang terjadi dalam kehidupannya, tepatnya apa yang terjadi dengan Maria, tunangannya. Sebagai manusia biasa ia merasa “dikhianati” oleh Bunda Maria karena sebelum mereka hidup sebagai suami-istri, Bunda Maria sudah mengandung (anak dari Roh Kudus). Maka, tidak heran jika Ia berusaha untuk menceraikannya. Akan tetapi Kitab Suci memberi suatu tekanan kepada kita, bahwa Santo Yosef seorang yang baik hati. Ia tidak ingin menceraikan istrinya secara terang-terangan tetapi secara diam-diam. Tentu sebagai laki-laki, ia merasa disakiti sehingga memutuskan untuk bercerai.

Sebagai manusia beriman, Santo Yosef  percaya kepada Allah. Rupanya rencana untuk bercerai dengan Bunda Maria “diketahui oleh Allah” sehingga Allah mengutus Malaikat Gabriel kepadanya untuk memberitahu bahwa Bunda Maria sungguh mengandung dari Roh Kudus. “Yusuf, Anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus (Mat 1:20).” Kita tahu bahwa kemudian tanpa ragu lagi bahwa Santo Yosef mengambil Bunda Maria sebagai istrinya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,

Apa yang kita petik dari sifat Santo Yosef ini? Dalam diri kita ada banyak kelemahan, tetapi ada juga kekuatan yang memampukan kita untuk bertindak dan bersikap seperti Santo Yosef. Kita sebagai manusia biasa, seringkali dengan mudah mengambil keputusan yang membuat orang lain menderita. Atau seringkali mudah untuk menghakimi orang. Sikap-sikap ini perlu kita sadari setiap hari, sehingga kita bisa menemukan kekuatan dalam mengatasinya. Sebagai orang beriman, seperti Santo Yosef, kita harus mendengar suara Allah melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci, nasihat para murid-Nya dan sebagainya. Tentu kelemahan itu tidak akan menjadi kekuatan jika hanya terus tunduk kepada-Nya. Mari kita merenungkan kembali bagaimana sikap kita dalam hidup kita sehari-hari. Apakah sudah seperti Santo Yusuf atau tidak? Tuhan memberkati.

Fr. Kampianus Ordin Jemanu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: