Renungan Minggu Biasa XXX

Renungan Minggu Biasa XXX

“Sebab barang siapa yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk.18:14b)

Pada perumpamaan  sebelumnya, Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya supaya selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk.18:1). Kemudian Yesus memberikan perumpamaan tentang cara berdoa yang dilakukan oleh orang Farisi dan pemungut cukai (Luk.18: 9-14). Setelah perumpamaan ini, Yesus memberkati anak-anak (Luk.18: 15_17). Melihat susunan teks Injil menurut Lukas ini, saya mencoba menemukan apa maksud atau pesan dari bacaan ini?

Orang Farisi disebut sebagai suatu kelompok dari para rabi yang selalu menaati secara mutlak seluruh hukum dan peraturan.  Nampak jelas dalam doanya melalui bacaan ini, yaitu ia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan berpuasa dua kali seminggu serta memberikan sepersepuluh dari penghasilannya (ayat 11-12). Melihat tindakan ini, saya kagum dengan pribadi orang Farisi itu karena ia sungguh taat pada pertintah-perintah Tuhan. Namun, saya merasa kasihan padanya karena ia tidak menyadari motivasi yang ada di balik doanya. Ia sedang menunjukkan sikap kesombongan: “Ya Allah, aku tidak sama seperti orang lain dan bukan juga seperti pemungut cukai ini (ayat 11).” Dengan demikian,  doanya tidak dapat dibenarkan oleh Allah.

Pemungut cukai adalah orang  yang bertugas sebagai  tukang  tagih  bea dan cukai. Mereka ini sering kali  memeras rakyat untuk menguntungkan diri. Kita bisa membayangkan bahwa dalam tugas itu pasti ada juga tindakan kekerasan yang dapat mereka lakukan. Dengan  demikian rakyat selalu memandang mereka sebagai orang berdosa ( Mat. 9:10). Menariknya, pemungut cukai ini mengakui kelemahannya itu di hadapan Allah. Saat berdoa, ia berdiri jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini (ayat 13).”   Sikap ini menunjukkan bahwa ia sungguh mengenal dirinya sebagai orang yang lemah dan tidak sempurna.

Melalui kedua tokoh dalam bacaan Injil ini,  kita dapat menghubungkannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Di hadapan Allah, mestinya kita mengakui diri sebagai manusia yang tak sempurna seperti pemungut cukai itu. Kita  hendaknya bersikap seperti seorang anak yang selalu mengharapkan kasih-Nya (ayat 15). Sebetulnya melakukan  semua perintah Tuhan itu baik tapi bukan untuk  kesombongan belaka. Contoh kesombongan itu adalah selalu menganggap diri lebih baik dan memandang rendah orang lain. Tentu kita dapat menemukan sikap ini dalam kehidupan kita sehari-hari dan kita tidak akan terlepas dari sikap ini.

Rupanya, rendah hati itu mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Atau sering kita dengar istilah “hanya manis di bibir”. Contohnya saat kita mendapat kritikan atau koreksi dari orang lain, tentu reaksi pertama yang muncul adalah merasa jengkel atau tidak menerimanya. Kita menganggap orang lain itu salah dan hanya kita yang benar.

Setelah kita menyadari bahwa dalam diri kita masih ada sikap sombong, maka marilah dalam doa-doa kita, kita mohon rahmat Tuhan agar kita dapat menjadi pribadi yang rendah hati baik di  lingkungan, di rumah dan di mana saja kita berada.  Amin.

 Fr. Yedrianus Mali, SX

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: