RENUNGAN MINGGU BIASA XXIX

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIX

Bac. I Kel. 17:8-13

Bac. II 2 Tim. 3:14, 4:2

Injil Luk. 8:1-8

 Doa yang Berpadu dengan Ketekunan

Kasih Kristus memampukan kita untuk mengenal-Nya dalam relasi pribadi kita kepada Allah. Sebagaimana yang ditekankan oleh Kristus dalam Luk. 18:1-8, pentingnya doa untuk menumbuhkembangakan Iman kita kepada Allah, Sang Kerahiman itu sendiri. Bahkan, Ia dengan tegas mengatakan kepada murid-murid-Nya, “harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1). Doa menjadi tujuan utama permenungan saya, untuk melihat realitas kehidupan Doa dan perjuangan kita untuk menjadikan doa itu sebagai hak milik pribadi atau harta milik yang dengan bantuan Rahmat Allah dan melalui Roh Kudus bekerja dalam jiwa kita masing-masing; bahkan menyadarkan kita terhadap peranan penting doa bagi kesuburan iman kepada Allah.

Mengapa doa dikatakan sebagai hak milik?. Karena dengan doa, kita membina relasi dengan Allah melalui Kristus. Keintiman doa terletak dalam setiap jiwa masing-masing, yang dengan kekuatan batinnya, ia memelihara kesatuan itu dengan memprioritaskan doa bukan hanya sebagai konsekuensi dari hidup sebagai orang beriman (Kristiani) melainkan kita berpartisipasi dalam menanggapi panggilan kita masing-masing kepada Allah. Sadar bahwa kita dipanggil oleh Allah yang adalah setia. Oleh karena itu, inilah kesatuan yang memampukan kita untuk menyerahkan dan menggerakkan diri sebagai orang yang dipanggil. Toh, Rasul Paulus mengungkapkan bahwa “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” (1 Tes 5:24)

Para saudara yang terkasih, bukankah kita manusia harus menggantungkan diri kepada Allah di dalam doa, yaitu dengan lahirnya ketekunan, keyakinan yang mendalam dan membatin, dan doa itu sendiri telah menjadi bagian dalam jiwa kita. Dalam kisah seorang janda yang ditawarkan oleh Gereja Minggu ini, kita mengambil sebuah makna yang berguna, dan sangat dibutuhkan. Amatilah bahwa janda itu terus-menerus memohon tanpa kenal batas dan waktu. Ia sendiri memiliki pengharapan yang besar pada tujuan permohonannya, mungkin juga dalam doa-doanya. Pengharapan itu bersumber dari iman. Artinya, keyakinan memperkuat harapannya untuk terwujudnya pengharapan yang bergulat dalam hatinya.

Ketekunan yang lahir dari keyakinan itu pula membawa kita untuk menjadikan doa sebagai sesuatu yang tak asing lagi. St. Paulus sendiri yang mengatakan bahwa “Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah, dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan” (Rm 8:26). Jadi, apakah yang meragukan kita dalam permohonan, ungkapan isi hati, rasa syukur, atau dalam wujud apapun kepada Allah? Saya menyadari bahwa membangun relasi personal dengan Allah membutuhkan suatu usaha dan perjuangan dari setiap pribadi. Perjuangan dan kerja sama antara usaha dan Rahmat Allah dalam diri kita harus kita wujudkan dalam tindakan konkret.

Bagi saya sendiri doa adalah “Gubuk Spiritual”, karena pada tempat itulah kita meluangkan keheningan batin kepada Allah. Keheningan batin dapat mengantar kita kepada Allah, karena saat itu kita membiarkan diri dipenuhi oleh kehadiran Allah sendiri yang melalui Roh Kudus mengajarkan segalanya kepada kita. Doa juga membuat kita lebih dalam memahami kehendak Allah dalam karya kita setiap hari. Di dalam doa kita mengumpamakan diri sebagai seorang anak, tunduk di hadapan Allah, dan menyampaikan segala suara hati kita kepada Allah.

Ketika berkhotbah diatas Bukit, Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan “apabila kamu berdoa janganlah bertele-tele, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepada-Nya” (Mat 6:7-8). Seharusnya, kita bersyukur karena Tuhan sendiri yang mengungkapkan kepada kita. Atau kerap kali, kita merasa bahwa kehidupan doa kita hanyalah sebuah “label” yang menempel dalam diri kita; atau kita memang mempunyai niat yang tulus (iman), tetapi kita tidak menggunakannya dalam doa kita kepada Allah. Sementara itu, para Rasul pun mengatakan kepada Tuhan Yesus “tambahkanlah iman kami”(Luk. 17:5).

Akhirnya, para saudara yang terkasih dalam Kristus Tuhan, bersama St. Maria, kita terus-menerus  memohonkan Rahmat kedatangan Roh Kudus untuk menuntun kita dalam doa. Doa bukanlah sebagai beban atau pun kewajiban belaka melainkan sebagai kekuatan untuk menopang kita dalam membangun relasi dengan Allah secara personal. Kerinduan jiwa setiap orang ialah merasakan dialog dari hati ke hati dengan yang Ilahi dalam Kristus. Kerinduan untuk mencapai kesatuan yang mendalam dan membatin melalui usaha kita dalam doa batin dengan Yesus. Doa adalah ungkapan isi hati (curahan hati) kepada Kristus. 

Doa Pribadilah yang menguatkan kita dalam segala hal, entah meningkatkan relasi dengan Kristus yang sesuai gerak hati masing-masing untuk memupuk hubungan dengan Kristus, entah mengungkapkan rasa syukur, permohonan, dan apapun.

Para saudara yang saya cintai dalam diri Kristus, selamat menikmati Cinta Tuhan. Selamat menikmati akhir pekan.

Our brothers and sisters,

Helping people find their way back to God.

God bless us

             Fr. Servasius Haryono Azist SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: