Menjadi Suci a la St. Conforti

Menjadi Suci a la St. Conforti

Setiap orang Kristiani pada dasarnya dipanggil kepada kekudusan atau kesucian hidup bersama Allah. Ada banyak cara dan jalan untuk menggapainya, tergantung pada pilihan hidup yang kita jalani, entah dengan menjadi imam, bruder, religius maupun hidup berkeluarga. (Bdk. Lumen Gentium art. 40). Panggilan kepada kekudusan adalah panggilan untuk semua. Lantas, apakah kita semua bisa menjadi suci? St. Conforti memandang kesucian itu secara umum sebagai persatuan jiwa dengan Allah, Sang Kasih. Kita mungkin beranggapan bahwa kekudusan itu hanya bisa dicapai dengan melakukan tindakan-tindakan heroik bak para martir zaman dulu, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang besar, misalnya mukjizat.

Ya, tentu saja semua hal semacam itu mampu menghantar sesorang kepada kesucian itu. Namun St. Guido Conforti justru menawarkan salah satu jalan dari sejumlah jalan yang ia sudah tempuh sepanjang hidupnya. Baginya, kekudusan itu tidak bersandar pada perbuatan-perbuatan yang ajaib, atau anugerah-anugerah adikodrati, melainkan bersandar pada rahmat Allah dan kesetiaan dalam melakukan kehendak Allah. Hal itu secara khas disampaikan dalam tugas-tugas panggilan kita setiap hari. Oleh karena itu, pemberian diri yang total dalam melakukan setiap tugas-tugas harian, sekecil apa pun itu, dengan motivasi yang adikodrati adalah suatu langkah yang bisa menghantar kita kepada kekudusan itu.

St. Conforti menjadi seorang yang suci dalam tugasnya sebagai seorang uskup dan pendiri serikat Misionaris Xaverian. Dia menghayai hidupnya sebagai suatu anugerah dari Allah dan menghayati kehendak Allah dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, dia selalu mengarahkan setiap perbuatannya, entah yang paling kecil sekalipun, kepada Allah. Di sanalah bagi St. Guido, Allah yang maha besar menampakkan diri. Ini merupakan suatu sikap iman St. Conforti. Sikap iman itulah yang menajamkan hasratnya pula untuk selalu melihat, mencari, dan mengasihi Allah dalam segalanya. Tentu saja, ia sangat mengharapkan agar anak-anaknya,para misionaris Xaveria, bisa menghidupi semangat dalam panggilannya.

Lantas, bagaimana dengan kita? Hidup kita seringkali “termakan” oleh suatu rutinitas sehingga tak lagi bisa memetik keindahan dan nilai dari setiap tindakan yang kita lakukan. Kita lebih banyak membiarkan setiap kesempatan-kesempatan itu lewat begitu saja. Padahal, menurut St. Conforti, hidup ini adalah suatu tenunan karya yang terus-menerus hingga akhirnya menyusun suatu rantai emas. Hal ini membuat dia sendiri, yang selama hidupnya selalu berusaha agar hal-hal yang nampaknya tidak penting sekalipun tidak terlewatkan. Filsafat sebenarnya bisa membantu kita di mana dengannya kita selalu berusaha mempertanyakan apa yang kita perbuat. Dengan begitu, kita menjadi sadar akan apa yang sedang kita lakukan. Namun, sebagai orang Kristiani, apalagi calon misionaris, tentu tak hanya bertanya, namun kita perlu memaknai secara ilahi apa yang kita lakukan itu. Di situlah letak usaha kita yang mau mentransformasi hal-hal yang biasa menjadi luar biasa.

St. Conforti menunjukkan tiga kegiatan yang biasa kita lakukan; dan ketiganya mutlak kita perlukan, yaitu makan, tidur/istirahat dan rekreasi. Dalam komunitas kita, semua kegiatan itu sudah tertata rapi. Apakah kita pernah sejenak memikirkan Allah di saat makan, atau saat rekreasi atau pun sebelum tidur atau saat istirahat? Sikap formalitas dalam melakukan sesuatu memang perlu dihindari. Bagi saya, St. Conforti mau menegaskan kepada anak-anaknya supaya sungguh sadar terhadap tindakan yang kita lakukan. Dari kesadaran itu, barulah kita memakanai tindakan itu secara illahi. Kita sadar bahwa makan dapat membantu kita untuk memulihkan kembali tenaga sehingga bisa melayani Tuhan dengan baik. Kita pun mengingat bahwa makanan itu berasal dari Dia.

Lalu, kita memerlukan rekreasi untuk menyegarakn jiwa dan menuguhkan cinta kasih. Kita menguduskan kegiatan itu dengan pertama-tama sikap yang baik, menunjukkan hal-hal yang bisa membangun kehidupan bersama. Dan, kita juga perlu tidur/istirahat untuk memulihkan dan mempetahankan kekuatan fisik guna melayani Tuhan secara lebih baik. Hendaklah kita memulia tidur dengan pikiran-pikiran baik, yang berkenan kepada Allah. Karena itu, entah kita makan atau minum, atau pun melakukan kegiatan lain, kita hendaknya melakukan semuanya itu demi kemuliaan Tuhan (bdk.IKor. 10:31). Inilah pintu bagi kita untuk senantiasa bertumbuh ke arah Dia, yang telah memanggil kita.

Santo Conforti pada akhirnya mengajak kita semua untuk mau menjalankan tugas kita yang paling kecil pun dengan motivasi adikodrati tanpa kenal. Kita pasti akan berkembang dalam kesempurnaan itu, yang adalah pantulan kesempurnaan Allah (La Parola del Padre No. 42).
“…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (I Petrus 1:15-16).

Fr.Bonaventura Kardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: