Belajar dari Sang Guru

Belajar dari Sang Guru

Fr.Yudhis dengan Vespa kesayangan

Fr.Yudhis dengan Vespa kesayangan

Dalam bahasa Jawa, Guru berarti digugu dan ditiru. Artinya seorang guru itu menjadi sosok teladan yang patut dicontoh dan menjadi panutan. Begitu yang sejak kecil saya pahami soal guru. Bahkan kedua orang tua saya pun lulusan SPG (pendidikan guru) dan sampai sekarang masih setia menjadi guru. Guru kehidupan begitu saya menyebut kedua orang tua saya karena saya seolah-olah langsung belajar dari mereka.

Sesungguhnya saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru (bukan karena kedua orang tua saya guru). Namun entah kenapa hidup saya tidak pernah jauh dari yang namanya ‘guru’. Sejak Seminari Menengah sampai Postulat, saya sudah aktif mengajar Bina Iman Anak (BIA). Pengalaman mengajar anak-anak BIA di BSD (Bumi Serpong Damai) dan Bintaro Jaya (Sanmare) membuat saya belajar untuk membawakan Injil dan ajaran Gereja dengan bahasa anak-anak. Pengalaman mengajar berlanjut ketika saya masuk Skolastikat.

Fr.Yudhis(baju biru garis-garis) bersama anak-anak BIA BSD

Tahun pertama saya mendapat tugas kerasulan di Pondok Ozanam, Warakas, Tanjung Priok membantu karya suster-suster Puteri Kasih. Saya kembali mengajar anak-anak SD, namun kali ini bukan BIA melainkan bimbingan belajar. Bersama pembina yang lain, saya mengajar mata pelajaran sekolah seperti Matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS. Saya pun tertantang untuk belajar kembali materi pelajaran SD kurikulum yang baru karena sangat berbeda dengan materi jaman saya SD dulu. Apalagi anak-anak SD sekarang sangat berbeda dengan jaman dulu. Mereka sudah tahu lagu-lagu cinta, bahkan sudah tahu pacaran (beginikah kemajuan zaman?). Bagi saya ini tantangan yang menarik karena perilaku anak memang mengikuti lingkungan dimana ia tumbuh. Lingkungan di Pondok Ozanam memang terkenal akan orang-orang yang suka mabuk, berjudi, bahkan main perempuan. Saya tidak pernah membayangkan sejak kecil tinggal di daerah semacam itu. Namun justru disitulah saya belajar untuk mendampingi anak-anak supaya tetap terdidik dengan baik. Mereka justru sangat bersemangat untuk belajar, situasi yang membuat saya pun semakin bersemangat.

Fr.Yudhis bersama anak-anak sekolah Pelangi

Memasuki tahun kedua Skolastikat, saya mendapat 2 tugas kerasulan yaitu mengajar agama Katolik di SMA Negeri 45 Jakarta dan di ICRP (Indonesian Conference of Religion and Peace) dengan mengajar anak-anak di Sekolah Pelangi Matraman. Di SMA Negeri 45 inilah untuk pertama kalinya saya mengajar bukan anak-anak melainkan remaja (ABG) yang usianya tidak terlampau jauh dari saya (bahkan secara fisik mereka lebih tinggi). Kali ini saya mengajar sebagai guru honorer sehingga harus mengajar berdasarkan kurikulum dan standar kompetensi yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Meskipun saya anak guru, tidak mudah mengajar formal seperti ini. Belum lagi saya harus mengajar kelas X, XI, dan XII sekaligus dalam satu hari karena jumlah siswa Katolik yang tidak banyak. Sungguh bukan perkara mudah menyampaikan tiga materi berbeda tetapi harus dipadatkan menjadi satu. Namun disinilah saya semakin belajar untuk dapat memanajemen waktu dengan baik karena tugas menjadi guru membutuhkan banyak tenaga dan fokus disamping tugas studi di kampus.

Ada kalanya saya harus berhadapan dengan pelbagai masalah yang cukup menantang kesabaran saya. Pernah saat saya hendak berangkat ke SMA N 45 setelah mengikuti kuliah Pancasila, vespa yang saya pakai mogok dan tidak mau nyala. Saya berusaha menyalakan vespa itu dengan berbagai cara termasuk dibantu oleh teman-teman kampus. Dikejar waktu, saya pun semakin tidak tenang dan keringat pun mengucur deras. Dalam hati saya hanya bisa berdoa agar tidak terlambat mengajar karena urusan mogok begini memang tidak pernah diduga datangnya. Untunglah vespa bisa nyala (dengan catatan segera beli busi baru) sehingga saya bisa segera berangkat kerasulan dengan waktu yang super mepet.

Fr.Yudhis mendapat hadiah dari para muridnya
Fr.Yudhis mendapat hadiah dari para muridnya

Namun ada kalanya saya mendapat suatu hal yang tak terduga dari murid saya. Suatu ketika saat saya berulang tahun, saya mengajak mereka untuk misa bersama di Gereja Keluarga Kudus Rawamangun. Usai misa, mereka membawa saya ke mall Kelapa Gading. Tak disangka ternyata bebeberapa siswa membawakan saya sebuah kue ulang tahun dengan tulisan, “HBD 22th Frater Gaul”. Bukan hanya itu saja, saat pelajaran agama seminggu kemudian mereka juga memberi kejutan kepada saya berupa kado ulang tahun yang sudah mereka siapkan. Saya mendapat jaket warna hijau yang sangat elegan dan bagus dari mereka. Sungguh saya merasa terharu dengan kejutan seperti ini apalagi karena setiap pelajaran biasanya saya dibuat jengkel oleh keributan dan kebandelan mereka. Saya merasa dihargai dan dicintai oleh mereka. Memang di sekolah mereka adalah murid saya, namun di luar mereka adalah teman-teman yang baik. Saya bersyukur bisa mendampingi mereka.

Dalam hal inilah saya belajar dari Yesus Sang Guru sejati. Saya merasa terkesan dengan pengajaran yang dilakukan oleh Yesus. Ia tidak hanya kuasa dalam perkataan, tetapi juga kuasa dalam perbuatan. Ia mengajarkan para murid untuk mencintai sesama manusia seperti diri sendiri. Teladan nyata ia tunjukkan dengan kerelaannya wafat di kayu salib sebagai wujud cinta-Nya yang paling mendalam kepada kita. Yesus wafat karena cinta-Nya kepada semua orang dan bangkit untuk memenuhi janji-Nya. Melalui teladan inilah para rasul sampai berani mewartakan Injil ke segala penjuru dunia. Sungguh Yesus adalah Sang Guru sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: