Bukan Kunjungan Biasa

Bukan Kunjungan Biasa

Fr. Ardin

Fr. Ardin

Pengalaman mencekam seringkali silih berganti masuk dan mengganggu momen doa kita. Bahkan mungkin setiap kali kita berdoa dan berusaha hening, pengalaman yang lain kembali menggoda kita. Namun kita tidak boleh menyerah begitu saja. Di balik sebuah pengalaman pahit selalu ada pengalaman yang manis yang membuat kita bersyukur atas pengalaman pahit itu, bahkan kita akan cenderung memintanya.

Awal tahun di Novisiat terasa sangat menyenangkan. Bangun pagi, laudes, Ekaristi, opera-opera kecil, semua terasa sangat menyenangkan dan menggembirakan. Waktu-waktu itu saya gunakan dengan baik dan saya jalani dengan sepenuh hati. Namun lain halnya setelah siang hari. Seperti biasa setelah potus pagi jam 10.00, baik kami novis maupun pra-novis bekerja di kebun, baik untuk membersihkan daun pisang yang kering, mencabut rumput, mencangkul maupun banyak pekerjaan lainnya. Dua jam berada di bawah terik matahari terasa sangat melelahkan dan membuat badan letih. Oleh karena itu, keinginan untuk beristirahat sejenak untuk sekadar melepaskan kelelahan sangat diperlukan. Akan tetapi kami tidak boleh melakukan itu.

Setelah bekerja, kami membersihkan diri baru kemudian melakukan kunjungan pribadi kepada Yesus yang sering disebut visitasi. Visitasi bagi saya terasa sangat membosankan dan hanya membuat ngantuk saja, sehingga seringkali terjadi bahwa selama visitasi saya hanya membaca buku-buku rohani. Pengalaman akan rasa bosan ini saya alami pertama-tama sebelum retret. Akan tetapi, meskipun terasa bosan dan jenuh (mungkin juga sesuatu yang sia-sia), namun saya tetap berusaha untuk setia melakukan visitasi.

Benarkah Visitasi Membosankan?
Setelah beberapa hari merenungkan kebosanan ini dan terus bergulat dengannya, saya akhirnya sadar bahwa visitasi bukanlah saat yang membosankan dan sia-sia. Visitasi sebenarnya saat yang penting bagi saya untuk masuk ke kedalaman diri saya, melihat berbagai macam tindakan saya dan motivasi-motivasi terdalam dari hati saya, mengapa saya melakukan tindakan-tindakan itu. Apakah yang memotivasi saya dalam bertindak hari ini? melakukannya karena suatu kewajiban? karena ingin mendapat pujian dari teman dan para pastor? atau cinta kasih yang memotivasi saya dalam bertindak? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul saat saya berdialog dengan Yesus dalam visitasi. Selain itu, selama bervisitasi saya berusaha untuk melihat kedalaman cinta saya kepada Yesus. Sampai sejauh mana saya sudah menyerupai Yesus hari ini? Apakah saya sudah melakukan kehendak Yesus hari ini atau saya hanya melakukan apa yang saya kehendaki?

Visitasi merupakan salah satu kesempatan yang tepat untuk menggali diri, mengenal kelebihan dan keterbatasan dalam diri, membongkar hal-hal yang tersembunyi dalam diri, mendengarkan Tuhan dan membiarkan diri dibentuk oleh Allah. Saat bervisitasi keheningan batin sangat diperlukan. Selain sebagai kesempatan untuk menggali diri, visitasi merupakan kesempatan untuk merenungkan kebaikan-kebaikan Tuhan yang sudah diterima selama setengah hari itu. Thomas a Kempis dalam buku mengikuti jejak Kristus menuliskan: Hendaklah kita mencari waktu yang baik untuk meneliti keadaan diri kita sendiri dan berusaha untuk sesering mungkin merenungkan kebajikan-kebajikan Tuhan (hal 54). Seruan ini sungguh-sungguh kami hidupi dalam tahun novisiat.

Visitasi bukan soal waktu
Visitasi biasanya kami lakukan setelah bersih diri pukul 12.10-12.30 WIB. Lama visitasi kurang lebih 20 menit setiap hari, waktu menurut jadwal harian kami. Bagi saya, waktu 20 menit ini pada awalnya sangatlah lama. Saya kadang tertidur saat bervisitasi atau kadang-kadang tidak memikirkan apapun, hanya diam. Bagi yang mengalami konsolasi (penghiburan rohani) atau yang masuk ke dalam visitasi, waktu 20 menit seperti satu detik saja. Relasi yang intim dengan Yesus kerapkali membuat saya merasa waktu berlalu begitu cepat. St. Guido Maria Conforti mengalami hal ini. Ia bisa duduk lama sampai berjam-jam di hadapan salib Yesus, karena ia sudah membangun relasi yang mesra dengannya. Atau dengan kata lain, bagi mereka yang mengalami penghiburan rohani, waktu tidak lagi menjadi sebuah persoalan, seperti yang saya alami diawal. Bagi mereka waktu yang lama ataupun singkat, sama saja, karena dalambervisitasi yang terpenting bukanlah berapa lama melainkan seberapa mendalam relasi itu. Artinya waktu tidak menjadi ukuran melainkan kedalaman sebuah relasi.

Tidak jarang selama hampir dua bulan di novisiat ini, saya seringkali mencari waktu pribadi untuk bervisitasi. Mengapa? Karena saya sudah mengalami betapa pentingnya bervisitasi. Bagi saya visitasi merupakan jalan untuk mengenal diri sendiri. Saya sungguh merasakan manfaatnya, saya semakin mengenal diri saya sendiri, semakin mengenal Tuhan yang saya imani, dan memampukan saya untuk merasakan atau mengalami Tuhan yang saya imani dalam kehidupan saya sehari-hari. Rasa bosan dan kejenuhan yang saya alami diawal kumaknai sebagai suatu batu loncatan untuk menikmati visitasi yang sesungguhnya dan yang sebenarnya.

Dari sini saya juga memaknai bahwa visitasi bukan saja saat untuk menggali diri, mengoreksi diri, melihat motivasi dari semua tindakan, tetapi lebih dari itu. Visitasi merupakan sebuah kunjungan seorang anak kepada seorang Bapa, sebuah kunjungan yang lahir dari hasrat cinta dan kerinduan yang mendalam. Visitasi bukanlah kunjungan biasa, hanya untuk menenangkan diri, melalui dan dalam visitasi saya semakin terdorong untuk lebih setia lagi, dengan Dia yang telah memanggil saya.Kesetiaan seorang anak kepada seorang Bapa. Akhirnya saya yakin dan percaya bahwa hanya dalam dan melalui Dia (Tuhan Yang sering berdialog dengan saya dalam Visitasi), saya bisa menjadi manusia yang sesungguhnya.

Fr. Kampianus Ardin Jemanu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: