Non Scholae sed Vitae Discimus

Non Scholae sed Vitae Discimus

Tugas Belajar sebagai Askesis Kehidupan

P.Vitus Rubianto S., SX*

Fokus Perencanaan Hidup Bersama Komunitas

IMG_0198Setiap tahun komunitas Skolastikat Filsafat Xaverian mengambil satu tema khusus yang menjadi fokus perhatian dalam Perencanaan Hidup Bersama yang akan diwujudkan dalam berbagai macam kegiatan komunitas dalam setahun. Fokus perhatian komunitas pada tahun ajaran 2015-2016 ini adalah dimensi studi. Tugas belajar dalam masa pembinaan di Skolastikat Filsafat ini mau dihayati sebagai satu tugas kerasulan yang utama.

Pilihan ini diilhami oleh ungkapan Santo Guido Maria Conforti dalam La Parola del Padre (“Kata-Kata Bapak Pendiri”) no. 8 yang mengutip kata-kata St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “…sampai kita bertumbuh ke arah Kristus” (Ef 4:15). Tugas belajar dalam masa skolastikat ini dengan demikian dipahami sebagai proses pembinaan dan pembentukan kepribadian misioner yang semakin tangguh, semakin kritis dan siap sedia menanggapi tantangan zaman, seturut gambaran dan teladan Yesus Kristus, Misionaris Bapa.

Setiap program dalam dimensi-dimensi kehidupan yang akan digarap dalam program tahun ini: mulai dari dimensi rohani sampai hidup rasuli, diusahakan agar terwujud sedemikian rupa, sehingga mendukung satu arah dasar yang sama. Arah dasar tersebut mau mengupayakan penghayatan satu spiritualitas studi yang secara pribadi dan komuniter dapat semakin mengembangkan kerasulan yang kreatif, animatif, dan misioner.

Warisan pujangga romawi

Filsuf Seneca
Doc.Google

Kita pernah mendengar pepatah dalam Bahasa Latin yang berbunyi: Non scholae, sed vitae discimus. Artinya: “kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup.” Pepatah ini berasal dari Seneca, seorang filsuf dan pujangga Romawi yang hidup sekitar tahun 1 seb. Masehi sampai tahun 65 Masehi. Tulisan-tulisannya dalam bahasa Latin mempunyai peranan penting dalam kebangkitan kembali aliran filsafat Stoa. Kutipan ini asalnya dari buku Epistulae morales ad Lucilium 11–12, di mana Seneca melontarkan kritiknya terhadap sekolah-sekolah filsafat dalam masanya hidup.

Rupa-rupanya ada satu askesis rohani tertentu dalam hal “belajar”, yang terus mau dipertahankan dan dibela sejak jaman Seneca. Askesis kehidupan itu masih sangat relevan juga bagi kita para penuntut ilmu zaman sekarang, yang harus terus melawan kecenderungan abadi dari sifat manusia yang tidak pernah puas dalam rasa ingin tahunya. Bahaya dari kecenderungan itu ialah pemisahan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas, antara prestasi intelektual dan kehidupan manusiawi yang nyata dan akibatnya… justru akan menjadi kontra produktif.

Belajar (supaya tidak) sampai menjadi “gila”

Baby baca

Ketika saya memulai spesialisasi saya dalam bidang Kitab Suci di Roma, saya harus belajar empat bahasa asing sekaligus, dua “bahasa mati” untuk bisa membaca teks Kitab Suci dalam bahasa aslinya dan dua bahasa asing modern yang dipakai untuk belajar kedua bahasa kuna tadi. Dulu saya pernah membayangkan betapa ngerinya kalau “komputer” raksasa di kepala itu sampai “hang”, macet dan tidak mau jalan. Soalnya, hampir kami semua, mahasiwa-mahasiswa di Institut Kitab Suci Kepausan itu, kenal dengan seorang peminta-minta yang selalu duduk di tikungan jalan sebelum masuk ke gedung sekolah. Betapa banyak bahasa yang dia kuasai sebagai seorang yang kami anggap agak “kurang waras” karena suka bicara dan menyanyi sendiri. Katanya, entah benar atau tidak, dia dulu juga bekas murid Sekolah Tinggi di mana kami belajar itu.

Satu mekanisme pembelajaran yang rutin

Ketika saya kembali ke tanah air dan mulai bekerja sebagai dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, ada satu fenomen klasik yang kembali terasakan di tengah kehidupan civitas akademica, satu mekanisme yang terus berulang setiap semester bagi seorang mahasiswa yang hidup di antara Kartu Rencana Studi pada awal dan Kartu Hasil Studi pada akhir, ditentukan oleh ujian-ujian Tengah Semester dan Akhir Semester. Begitu pula kehidupan dosen yang rutin ditentukan oleh penyusunan silabus dan penyerahan nilai akhir tugas-tugas dan hasil ujian. Satu mekanisme rutin yang dapat membuat orang menjadi “pemakan-pemakan kredit perkuliahan” (kadang dengan SKS yang bisa berubah artinya jadi “Sistem Kebut Semalam”).

Zaman dulu ketika mahasiswa agak terlalu dimanjakan dengan pelayanan kampus dan dosen yang sangat rajin, mahasiswa-mahasiswa zaman saya ada yang dikenal juga sebagai “diktator”, pelahap diktat untuk mengejar nilai prestasi ujian. Situasi dan kondisi pembelajaran yang rutin itu, ditambah lagi dengan banyaknya kesibukan kerasulan di masa Skolastikat ini, membuat masa studi yang berharga itu bisa terasa cepat berlalu. Masa tersebut tidak secara otomatis memberikan kesempatan kepada seorang frater untuk membentuk satu kesadaran yang mampu merangkum dan memadukan prestasi studi dan pembentukan kepribadian rohani dalam satu harmoni panggilan.

Bina diri yang terus berkelanjutan sebagai spiritualitas studi

Kini, ketika saya mulai menikmati tugas dan tanggungjawab sebagai formator sekaligus dosen, rasa-rasanya makin jelas bahwa spesialisasi yang dipercayakan pada saya itu adalah satu pilihan yang integral dengan pembinaan kepribadian misioner saya. Pengalaman belajar (dan mengajar) sejak masa pembinaan dasar sebagai frater dulu sampai bina lanjut sekarang membuktikan bahwa tugas belajar ini memang tidak pernah final, karena memang terus membentuk kepribadian saya dan makin menentukan corak keberadaan saya sebagai seorang misionaris Xaverian. Orisinalitas dan kekhasan saya dalam mengajar dan merasul tidak lain adalah hasil dari integrasi terus menerus antara dimensi hidup studi dan hidup rohani, membentuk satu spritualitas studi yang khas.

Oleh karena itu, saya yakin sejak masa pembinaan di Skolastikat ini seorang frater sudah dapat mulai menyusun dengan baik track record studinya. Apa pun nanti “spesialisasi” yang akan diterimanya sebagai satu penugasan selanjutnya, baik di dalam maupun di luar negeri, akan membentuk satu integritas jati diri misioner yang akan terus diperkaya dalam perjalanan waktu, sampai seperti kata Santo Paulus, “kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

*Rektor Skolastikat Xaverian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *