Renungan Th.B Minggu Biasa XXIII

Renungan Th.B Minggu Biasa XXIII

Penyembuhan Seorang Bisu Tuli

Yes. 35:4-7aMzm. 146:7,8-9a,9bc-10Yak. 2:1-5Mrk. 7:31-37 

Kisah yang dituliskan oleh penginjil Markus pada hari ini kiranya dapat membantu kita umat beriman agar semakin mencintai-Nya dengan menjadi pewarta Kerajaan Allah. Kisah peyembuhan seorang bisu tuli tidak hanya sekadar menyembuhkan telinga yang tidak bisa mendengar dan mulut yang tidak bisa berbicara. Lebih dari itu, kisah ini mau bertanya tentang kesiapsediaan kita melayani-Nya.

Dalam perikop ini, Yesus Sang Putera Allah datang dan melayani seorang yang dipandang rendah secara umum. Yesus tidak sekadar menyentuh dan segera menyembuhkan orang itu. Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, kemudian menyentuh lidahnya. Mungkin bagi sebagian orang tindakan Yesus ini sangat aneh dan jorok. Akan tetapi, inilah pelayanan yang total, yang tidak hanya setengah-setengah. Sikap dan sifat seperti inilah yang harus dimiliki seorang pelayan Allah. Dari tindakan yang dilakukan Yesus ini, kita dapat melihat betapa Allah mencintai semua orang. Ia tidak membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin, kuat dan lemah. Ia mencintai kita secara total. Kasih Allah itu tidak terbatas, melainkan melimpah.

Melalui kisah ini, kita dapat melihat apakah kita juga mempunyai “penyakit” bisu tuli. Ketulian karena kita tidak mau mendengarkan (jeritan) orang lain. Kebisuan karena kita tidak memberikan kesaksian tentang Allah yang berbelaskasih. Tetapi, jika kita mau datang kepada-Nya, Yesus siap menolong kita dengan berkata, “Efata”. Ia siap membuka pintu hati kita yang tertutup. Inilah alasan mengapa kita semakin beriman dan mencintai-Nya.

Kisah penyembuhan seorang bisu tuli ini kiranya sangat membantu kita memasuki bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Terlebih dahulu, marilah kita membuka hati dan diri pada sapaan-Nya yang penuh kasih kepada diri kita masing-masing. Baru setelah itu kita mencontoh Yesus yang melayani secara total. Oleh sebab itu, marilah pada momen Bulan Kitab Suci Nasional ini kita semakin bertumbuh dan bergerak ke arah Dia yang telah mencintai kita, dengan merenungkan Sabda-Nya dan melayani sesama. Tuhan Memberkati. Amin.

(Fr Gindo,SX)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: