Renungan Th.B Minggu Biasa XXII

Renungan Th.B Minggu Biasa XXII

Ulangan 4:1-2.6-8 | Yak 1:17-18,14-15,21-23 | Mrk 7:1-8,14-15,21-23

Menjaga Keseimbangan Antara Menjadi Pendengar Firman dan Pelaku Firman

Bacaan injil, pada minggu ini, menampilkan adegan dialog antara ahli taurat yang dalam kesehariannya memegang teguh adat kebiasaan Yahudi dengan Yesus yang menjawab pertanyaan para ahli taurat akan tindakan para murid. Masalah yang dipersoalkan tampak memang sangat ”sepele” yaitu para murid yang tidak melakukan persiapan sebelum makan dan bagaimana harusnya menyantap dengan baik  yang sesuai dengan adat. Akan tetapi, hal yang yang “sepele” ini ternyata tidaklah diangap sepele oleh para ahli taurat,  hal ini terjadi karena kesetian mereka terhadap adat istiadat menjadi suatu tanda akan teguhnya keyakinan mereka dalam menjalankan hukum taurat sebagai jalan keselamatan. Bagi para ahli taurat, tindakan para murid ini tidaklah sesuai dengan status Yesus sebagai guru, rabi dan lain sebagainya yang seharusnya “mentaati” segala hukum.

Jawaban Yesus atas pertanyaaan ahli taurat tampaknya “kasar” namun demikian  terlihat memang  cocok juga untuk  beberapa ahli taurat yang dalam khasus ini menjadi orang yang antara perbuatan dan perkataanya kontradiktif, atau dalam pribahasa Indonesia lain dihati lain dimulut. Yesus, setelah memberikan sindiran kepada Ahli taurat, mengangkat soal tanggapan hati sebagai ganti ketaatan terhadap adat istiadat sebagai penentu utama dalam mengikuti jalan keselamatan Allah. Dengan jawaban ini, Yesus sepertinya membuka pikiran para ahli taurat akan  keuniversalitasan keselamatan Allah yang sedang dibawa oleh Yesus sebab kalau keselamatan itu hanya soal hukum maka keselamatan Allah itu tidak akan dapat didengarkan dan  diterima oleh bangsa-bangsa lain dan hanya terjadi disekitar bangsa Yahudi. Yesus menunjukkan, perihal kedatangannya ke dunia, untuk keselamatan semua manusia dan bagaimana manusia menanggapi tawaran yang bersifat universal itu adalah dengan mengunakan hati dan bukan dengan hukum yang sifatnya terbatas. Pesan injil ini dapat pula kita lihat pada bagi selanjutnya dari Injil Markus bab 7 ini, dimana setelah dialog ini, Yesus pergi menyembuhkan perempuan Sirofeniasi dan orang tuli di daerah Dekapolis. Orang-orang “kafir” ini dapat merasakan keselamatan Allah karena mereka percaya dan disini hati merekalah yang bertindak dan bukan soal hukum.

Pesan injil pada minggu ini, akan keuniversalitasan kasih Allah, meyakinkan kita bahwa, Allah senantiasa menyertai seluruh umat manusia, Ia tidak membeda-bedakan dengan persoalan suku, ras, dan hukum. Kehadiran Yesus, untuk mewartakan kerajaan Allah di dunia ini, Akhirnya memampukan kita untuk mengamini kutipan dari bacaan pertama pada minggu ini bahwa bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita berseru kepada-Nya? (Ul 4:7). Ini adalah suatu anugerah yang sempurna yang kita miliki sebab kita, dengan menerima Yesus dalam hati, diangkat menjadi anak sulung diantara semua ciptaaan. Dengan demikian perutusan kita adalah menjadi pelaku firman dan  tidak hanya menjadi pendengar firman (Yak 1:17,22).

(Fr.Ovan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: