Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Dalam Keraguan Ada Kebenaran

Ul. 4:32-34,39-40Mzm. 33:4-5,6,9,18-19,20,22;Rm. 8:14-17Mat. 28:16-20 

heb

Fr.Hebri di samping patung Driyarkara

Rene Descartes seorang filsuf modern mengatakan bahwa segala sesuatu itu muncul dari keraguan. Konsep pemikirannya mau menjelaskan salah satu ciri khas filsafat. Konsep pemikiran Descartes sebanarnya mau mengajarkan kita satu hal penting yaitu untuk tidak percaya begitu saja akan apa yang keberadaannya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Dalam  sejarah  filsafat abad pertengahan konsep ragu-ragu sangat ditekankan dalam hal memaknai iman. Agustinus memperkenalkan istilah fides quaerens intellectum yaitu iman mencari pembenaran di hadapan akal budi. Ajaran tersebut mau mengajak kita untuk tidak percaya begitu saja segala sesuatu yang diwariskan tanpa ada suatu pertimbangan etis. Dengan demikian kita diajak untuk mempelajari, menganalisis, mengkritik, serta mengambil kesimpulan yang tepat tanpa berhenti pada hipotesis-hipotesis belaka. Hal ini bertujuan agar kita mampu bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Bila diringkas, Descartes dan Agustinus mau mengajak kita untuk berpikit kritis, dialektis dan bertindak etis.

Bacaan injil hari ini menampilkan sosok para murid yang ragu-ragu  menyembah Yesus. Mereka ragu apakah yang hadir di hadapan mereka adalah  benar Yesus atau hantu. Sikap mereka mau menunjukan belum adanya relasi yang intim dengan Yesus sehingga sulit untuk mengerti ke-Allah-an Yesus. Mereka belum percaya sepenuhnya akan misteri  keselamatan Allah yang ada dalam diri-Nya. Para murid seolah-olah hanya melihat sosok kemanusiaan Yesus sehinga ketika  berbicara mengenai kebangkitan badan bagi mereka merupakan hal yang mustahil. Sikap para murid mencerminkan sikap  kita yang cenderung ragu-ragu terhadap karya keselamatan Allah. Hal itu didukung apabila doa yang kita panjatkan tidak kunjung dikabulkan. Hal ini cenderung menghadirkan pertanyaan, “Apakah benar Allah itu ada? Jika Allah ada mengapa Dia tidak peduli dan mengapa masih ada penderitaan ?”

Sikap ragu-ragu yang ditampilkan  oleh para murid mau menunjukan bahwa akal budi manusia tidak cukup untuk mengenal misteri keselamatan Allah, oleh karena itu butuh suatu pencerahan dari Dia yang memberi kehidupan (iluminasi). Dengan Roh yang diterima maka manusia semakin sempurna mengenal siapa itu Allah. Karunia Roh  tentunya  terus dibutuhkan oleh para murid dalam menjalankan misi yang diberikan Yesus yakni menjadikan seluruh bangsa menjadi murid-Nya dan membabtis mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus. Roh itu menuntun para murid untuk tidak ragu-ragu dalam menjalankan tugasnya. Melalui keraguanya para murid semakin mengenal bahwa yang sempurna hanya ada pada Allah sebagai pemberi hidup. Oleh karena itu para murid memusatkan perhatian kepada Allah. Menarik bagi kita untuk merefleksikan keraguan para murid, bahwasanya keraguan bukan suatu hal yang jahat, dan bukanlah sebuah dosa.

Keraguan  mau menunjukan bahwa kita adalah pribadi yang rapuh yang senantiasa membutukan rahmat pencerhaan dari Allah sehingga kita mempunyai terang dalam menjalankan tugas kita. Keraguan menghantar kita pada sebuah permenungan, bahwa hanya kepada Allah kita perlu bersandar karena Dia yang memberi hudup dan terang. Hanya melalui keraguan, kepastian akan kehidupan kekal itu tampak. Semoga dengan keraguan-keraguan yang ada di dalam hati kita, kita semakin sadar bahwa kta membutuhkan sosok pribadi yang mampu menghalau keraguan kita, Dia yang dimaksudkan adalah Yesus sendiri.

(Fr. Ervino Hebry Handoko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: