Renungan Minggu Prapaskah I

Renungan Minggu Prapaskah I

“BERTOBATLAH DAN PERCAYALAH KEPADA INJIL”

Kej. 9:8-15Mzm. 25:4b-5ab,6-7bc,8-91Ptr. 3:18-22Mrk. 1:12-15

12Sekali peristiwa Roh memimpin Yesus ke pandang gurun. 13Di padang gurun itu selama empat puluh hari Yesus dicobai oleh iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia. 14Sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah. 15Kata-Nya, “Saatnya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.

Masa prapaskah merupakan kesempatan emas bagi setiap umat Kristiani untuk memurnikan dirinya dihadapan Tuhan, sehingga ia menjadi layak dan pantas menyambut kebangkitan Kristus di dalam hatinya. Setiap umat Kristiani, dengan caranya masing-masing, berusaha untuk menghayati masa prapaskah ini dengan sebaik mungkin.

Kebiasaan yang paling identik dengan masa prapaskah ialah puasa dan pantang. Tindakan bermati raga ini dimaksudkan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan keinginan-keinginan lahiriah yang tanpa disadari membuat seseorang sangat bergantung pada pemenuuhan akan kebutuhan lahiriah tersebut. Orang merasa bahagia apabila apa yang dibutuhkan oleh diri jasmaninya terpenuhi.

Melalui sabda-Nya hari ini, Tuhan Yesus justru memperlihatkan sebuah contoh yang justru berkebalikan dari kecenderungan kita sebagai manusia. Tuhan Yesus yang berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun memberikan kesan kepada kita bahwa ternyata hidup kita tidak hanya tergantung kepada hal-hal duniawi ini. Ada sesuatu yang lebih penting, yakni: pemenuhan kebutuhan rohani atau jiwa kita.

IMG_0060

Dengan sangat indah, Tuhan Yesus mengundang kita semua untuk segera bertobat dan percaya kepada Injil. Sebab Dia, yang adalah Kerajaan Allah itu sendiri, telah hadir di tengah-tengah kita. Undangan pertobatan dari Tuhan Yesus ini tentu menuntut suatu perubahan yang konkret dalam diri setiap umat Kristiani. Sederhananya, bertobat berarti berbalik arah. Dari yang salah menuju yang benar atau dari yang buruk menuju yang lebih baik. Amin

(Fr. Febrianus Arianto Fauk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: