Renungan Minggu Biasa XI

Visi Injili : Berpikir Positif Terhadap Sesama

 Ada seorang tokoh, Anna Frank. Ia berkebangsaan Yahudi dan sebagai salah satu dari korba Nazi. Dalam sebuah tulisannya, ia pernah mengatakan demikan, “Aku yakin,bahwa,di dalam kedalaman hatinya setiap orang  BAIK ADANYA!”. Perkataan ini ternyata menginspirasi seorang peremuan Negro, Afrika. Perempaun punya niat yang kuat untuk berkunjung ke Penjara. Dalam surat kabar dan cerita yang dia peroleh setiap hari, bahwa di penjara itu sering terjadi aksi pembunuhan, kekerasan, dsb. Cerita-cerita tak menghalangi niatnya. Ketika peremuan itu berkunjung ke penjara, ia menyapa semua orang yang berada di sana. “Di dalam duniaku, hanya terdapat saudara-iku saja, tidak ada orang  asing. Kiranya  beberapa saudara-ku itu belum sempat saya jumpai…”

 Analisis Kesenjangan antara cita-cita dan Realitas

Ibu, bapa,saudara/i yang dikasihi Tuhan, Kisah di atas sedikit memberikan gambaran bagaimana visi atau cara pandang kita terhadap sesama turut memengaruhi sikap dan perilaku dalam berelasi. Yang ditampilkan dalam kisah itu adalah visi yang positif terhadap sesama. Berpikir positif terhadap sesama ternyata membuat (Frater) menjadi bebas dan tidak canggung dalam bergaul. Berpikir positif akan membantu kita dalam hal kehidupan bersama. Segala prasangka atau kecurigaan bisa terhindarkan. Hidup kita akan menjadi damai dan komunitas kita menjadi harmonis.

Namun, ada kenyataan lain yang sering terjadi di tengah-tengah kita, bahwa orang justru lebih mudah membicarakan kelemahan, kejelekan atau keburukan orang lain. <Gosip ria…> Bisa dibayangkan seseorang yang selalu hidup dalam cara pandang yang demikian, apakah orang itu akan damai hidupnya? Saya sangat yakin bahwa orang semacam itu akan sulit berelasi dengan sesamanya. Untuk mencapai hidup yang damai akan sulit juga. Dia tidak menjadi manusia yang bebas.

Coba kalau, ketika seorang sudah meninggal, hampir pasti orang melupakan kelemahan atau keburukan orang yang meninggal itu. Hal yang dibicarakan adalah kebaikan yang dilakukanya selama hidupnya. Lalu, apakah kita menunggu kematian, barulah kita mengakui atau mengisahkan kebaikan orang lain?

Mendengarkan Pesan Sabda Allah

Ibu, bapa,saudara/i yang dikasihi Tuhan, Allah tidak pernah melihat keunggulan dan kekurangan manusia. Ia memberikan seluruh hidup-Nya kepada manusia, bukan karena manusia itu baik. “Allah menurunkan hujan bagi orang yang jahat dan yang baik….” Yesus pun dalam karya-Nya tidak pernah memilih dalam berelasi, entah kaya dan miskin, berdosa dan suci, pejabat dan rakyat jelata. Status Yesus sebagai anak Allah, Mesias ternyata tidak menghalangi-Nya untuk menyapa dan merangkul semua orang untuk datang kepada-Nya.

Dalam Injil yang kita renungkan hari ini menampilkan figure Yesus yang penuh kasih dan ramah. Dia bergaul dan menyapa setiap orang tanpa memandang siap yang yang disapanya. Ia dilayani oleh seorang perempaun, yang dicap dan dianggap oleh orang-orang Farisi sebagai perempuan berdosa. Tidak dikatakan dosa apa yang dilakukan oleh wanita. Perlu diketahui juga bahwa wanita itu bukanlah Maria Magdalena. Bagi, orang Farisi, perempuan itu adalah najis, maka tidak boleh menyentuh sesamanya. Sebab, siapa saja yang disentuhnya akan menjadi najis seperti dia. Orang Farisi lebih melihat kelemahan dari wanita itu. Tetapi, Yesus melihat kebaikan yang dilakukan oleh perempuan itu. Ia tidak menolak kehadiran perempuan itu. Bahkan sikap perempuan itu dijadikan teladan bagi para murid-Nya (bdk. Ayat 44).

Yesus selalu tampil dengan sikap yang berlawanan dengan sikap kaum Farisi. Yesus membiarkan perempaun itu menyentuh-Nya, bahkan sampai mencium dan membasuh kaki-Nya dengan minyak wangi (bdk. Ayt. 38). Di balik tindakan itu, si perempuan itu memperlihatakan sikap penyesalan yang mendalam terhadap perbuatanya. Ia wujudkan hal itu dengan memberikan harta yang paling berharga untuk melayani Yesus. Yesus melihat kedalaman hati perempuan itu, yaitu kebaikan dan kemurahan hatinya untuk melayani Tuhan. Sebab apa yang dilakukannya itu juga sama seperti yang dilakukan oleh Yesus kepada para murid-Nya sebelum Ia mengalami peristiwa salib. Pandangan orang-orang Farisi sangat dangkal sebab hanya melihat keburukan perempuan itu. Mereka lupa bahwa perempuan itu melakukan suatu perbuatan kasih. Perbuatan kasih itulah yang membuat dia diampui. Orang-orang Farisi jutru tidak melakukan perbuatan kasih, melainkan sibuk menghakimi sesamanya.

Sikap orang-orang farisi merupakan gambaran sikap sebagai manusia pada umumnya. Kita sering kali menajiskan sesama kita dengan sikap atau perbuatan kita. Budaya cuek juga merupakan langkah awal orang terjerumus dalam sikap penajisan itu.

  Mengantisipasi Konsekuensi dari Mendengarkan Sabda Allah

Ibu, bapa,saudara/i yang dikasihi Tuhan, Allah kita bukanlah seorang pedangan yang selalu menghitung untung dan rugi. Ketika manusia melakukan dosa, Allah tidak merasa rugi. Begitu pun sebaliknya, ketika manusia berbuat baik, Allah tidak merasa juga untung. Perbuatan baik yang kita lakukan itu tidak akan menambah atau mengurangi kemuliaan-Nya. Allah kita tetap berbelas kasih. Belas kasih inilah yang selalu melampaui dosa manusia.

Gereja universal sedang menghayati Tahun Kerahiman Allah. Allah menyapa kita untuk senantiasa menyadari akan kebaikan-Nya. Kerahiman Allah itu memerdekan kita. Karena itu, bukan lagi saatnya untuk berkubang dalam dosa, dalam kerapuhan manusiawi kita, melainkan kita bangkit bersama Yesus untuk merasakan sukacita bersama-Nya. Kita hendaknya menjadi seperti wanita yang dikisahkan dalam Injil, yang menyadari akan kelimpahan belas kasih Allah sehingga dianugerahkan rahmat pengampunan dosa. Juga kita mesti mampu keluar dari sikap menghakimi sesama hanya karena kelemahan manusiawinya. Yesus adalah model bagi kita. Di hadapan wanita yang berdosa, dia tidak menghakiminya, tetapi justru mengampuni dosa-dosanya.Semoga kita bisa  memandang orang lain sebagai saudara. Dengan begitu kita menjadi bebas dalam berelasi dan harmonis dalam hidup bersama, baik di dalam komunitas keluarga maupun masyarakat.

(Fr. Bonaventura Kardi, SX)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *