Renungan Minggu Prapaskah I

Pertobatan Diri

 Ul. 26:4-10; Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15; Rm. 10:8-13; Luk. 4:1-13

Sekarang kita memasuki masa Prapaskah, yang kita lalui selama empat puluh hari menuju Paskah. Kita mengawali masa ini dengan mengakui kerapuhan kita yang asalnya dari tanah. Meski demikian karena Roh Tuhan kita telah dijadikan-Nya secitra dengan Dia. Lalu apa yang harus kita boboti selama empat puluh hari? Tentu kita berniat untuk merubah sikap-sikap kita menjadi lebih bermakna. Artinya kelakuan kita lebih baik daripada kelakuan kita yang sudah berlalu. Ada niat untuk ziarah, adorasi, sakramen tobat, merayakan ekaristi, dan  masih banyak komitmen lainya. Bacaan dalam Minggu Prapaskah I disuguhkan dengan begitu enak, lezat, dan manis rasanya. Mengapa tidak? Soalnya dalam bacaan ini, kita sendiri  beri stimulus dan hidangan yang mewah untuk mengingat kembali peristiwa Yesus dicoba di padang gurun. Yang menarik adalah bahwa konteks dekat dari bacaan ini adalah peristiwa Yesus di baptis, silsilah Yesus, dan pewartaan Yesus di Nazaret. Dengan dibaptis kita diingatkan akan tugas kita sebagai anak Allah, untuk melawan godaan yang membuat kita tidak berlaku sabagi anak Allah. Penegasan tentang Anak Allah, telah dikatakan dalam kedua perikop konteks dekat bacaan ini, yakni dalam peristiwa pembaptisan, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”(Luk.3:22b) dan dalam silsilah tentang Yesus, “…anak Allah”(Luk.3:38). Hidup sabagai Anak Allah berarti hidup menuju kemenjadian, yakni “Menjadi sempurna seperti Bapamu yang di surga.” Dengan kata lain, hidup menuju kekudusan dengan bersikap seperti Bapa yang berbelaskasih.

Yesus yang penuh dengan Roh Kudus, lalu pergi ke padang gurun dengan bimbingan Roh Kudus. Di padang gurun Yesus ditantang untuk menunjukkan siapakah Dia. Menunjukkan kemahakuasaannya sebagai Anak Allah untuk mengubah batu menjadi roti, diberi hadiah dalam ini segala kuasa serta kemulian jika ia menyembah si iblis, dan diberi jaminan jika ia menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Akan tetapi, “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik”(Luk. 4:13). Jelas bahwa meskipun Iblis gagal, ia tetap menunggu dan menggoda manusia setiap saat. Yesus telah memberi teladan untuk melawan godaan yang datang dari Iblis, agar kita bersikap seperti dia dalam melawan godaan. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma menegaskan kepada kita soal konsistensi kita dalam menghidupi iman kita. Ia mengatakan bahwa dengan hati  kita percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut kita mengaku dan dibenarkan (Bdk. Roma 10:10). Dengan mulut dan hati kita pun bisa jatuh dalam godaan. Misalkan kita hanya banyak bicara tapi tanpa menghayatinya dalam hati kita. Ini menjadi percuma. Sia-sia saja. Konsistensi dalam mengidupi iman kita membawa kita pada kesetian pada Bapa.

Maka dalam kesempatan yang berahmat ini, kita memohonkan rahmat kesetiaan untuk bersikap sebagai Anak Allah untuk melawan godaan. Karena godaan akan selalu ada (baca: Iblis menunggu waktu yang baik). Jalan singkat, enak, manja, ketenaran yang dijanjikan oleh iblis bukanlah yang dikehendaki oleh Bapa. Ini bukan jalan keselamatan. Jalan keselamatan ialah Yesus Kristus. Bukankah Yesus pernah berkata Dialah jalan kebenaran dan hidup. Sambil memohonkan rahmat ini, kita dengan tegas mengatakan “menolak godaan Yes,  mengikuti Yesus Yes.” Amin.

Fr.Valerius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *